BEBERAPA tahun belakangan, sineas Indonesia cukup produktif dalam menghasilkan karyanya. Karya-karya yang disuguhkan pun cukup variatif. Genre yang ditawarkan pun sangat beragam. Misalnya, tahun lalu Mouly Surya menawarkan genre film satay western (film koboi) di Indonesia.
Namun sayangnya, banyaknya film yang beredar saat ini nyaris tak menyertakan film anak-anak di dalamnya. Jumlah film anak-anak saat ini sangat sedikit.
"Sepanjang tahun 2018, tidak ada film anak-anak yang mendaftarkan dirinya ke Lembaga Sensor Film," ucap Wakil Ketua Lembaga Sensor Film, Dody Budiatman. Menurutnya, film yang beredar saat ini belum memenuhi kriteria untuk layak ditonton anak-anak.
"Film yang ramah anak seharusnya menstimulasi kreativitas anak-anak, meningkatkan solidaritas anak-anak, dan memacu anak-anak supaya lebih baik," terangnya.
Sementara itu, pengamat film, Yan Wijaya menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan film anak-anak jarang diproduksi di Indonesia. "Para pekerja di industri film jarang memproduksi film anak-anak karena mereka harus bersaing dengan film animasi dari luar negeri seperti Walt Disney," jelasnya. Para animator Indonesia belum mampu bersaing dengan animator asing karena terkendala biaya.
Sementara itu, psikolog Rena Masri menghimbau para sineas untuk membuat film yang ramah anak. "Anak-anak biasanya meniru apa yang ia lihat, dalam psikologi, perilaku meniru ini dikenal dengan sebutan imitasi," ucap Rena.
Imitasi adalah suatu interaksi sosial seseorang atau sekelompok orang yang meniru atau mengikuti perilaku orang lain atau kelompok lain. Prosesnya terjadi dengan cara mencontoh, meniru, atau mengikuti perilaku orang lain.

Anak melakukan imitasi karena imitasi merupakan salah satu proses belajar. Tayangan di layar lebar tentunya akan sangat berpengaruh bagi seorang anak yang dalam perkembangannya sedang melakukan proses belajar dengan imitasi.
Hal tersebut terjadi karena anak masih belum bisa secara optimal membedakan perilaku-perilaku yang sesuai norma dan boleh diikuti atau tidak. Misalnya, jika tayangan televisi penuh dengan adegan kekerasan (menonjok, menendang tanpa alasan, membully, dan lain-lain), dikhawatirkan anak akan mengikuti perilaku ini dalam kesehariannya.
"Sangat mungkin berbagai perilaku remaja saat ini dipengaruhin oleh tontonan yang mereka lihat. Dengan kemajuan teknologi yang berkembang saat ini, para remaja dapat melihat berbagai aspek dari berbagai penjuru dunia melalui layar lebar," urai Rena.
"Ketika menonton, tidak ada pengarahan bahwa perilaku yang ia lihat di layar lebar itu baik atau tidak. Tidak ada pendamping membuat remaja merasa perilaku yg mereka lihat itu sah-sah saja jika dilakukan di kehidupan mereka sehari-hari. Inilah yang sangat dikhawatirkan sehingga sangat perlu kita melakukan proses seleksi terhadap tontonan untuk para remaja," papar Rena. (avia)