Merawat Ingat

Lahir Seabad Lalu, I Gusti Ngurah Rai 'Pulang' ke Carangsari Tahun 2018

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 30 Januari 2022
Lahir Seabad Lalu, I Gusti Ngurah Rai 'Pulang' ke Carangsari Tahun 2018

I Gusti Ngurah Rai berjuang bersama Ciung Wanara.(foto: aswajadewata)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEJAK era 1970-an, ikon Bandara Internasional Bali itu setia menyambut jutaan orang yang datang ke Pulau Dewata lewat jalur udara, mulai dari tamu kenegaraan, delegasi asing, wisatawan mancanegara hingga lokal. Patung karya arsitek Bali lulusan ITB Surya Pernawa itu, menggambarkan pose kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai, yang juga diadopsi sebagai nama bandara. Sosoknya digambarkan berpembawaan tenang dengan pakaian militer lengkap menebar aura wibawa kepemimpinan, yang terus abadi hingga kini.

Baca Juga:

Hari ini lebih dari seabad lalu, I Gusti Ayu Kompyang melahirkan pahlawan Bali itu dari rahimnya di Carangsari, 30 Januari 1917. I Gusti Ngurah Palung, sang ayah menjabat Camat Petang, sehingga bisa menyekolahkan anaknya di Holands Inlandsche School (HIS) hingga lulus MULO (SMP) di Malang. Ngurah Rai tertarik militer sejak kecil, masuk Sekolah Kader Militer di Bali dan lulus dengan pangkat letnan dua pada 1940. Kariernya melesat setelah mengikuti pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO), Magelang. Menjabat perwira intelijen sekutu di Bali dan Lombok masa kolonial, Ngurah Rai membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil, dengan nama Resimen Ciung Wanara berkekuatan 13,5 kompi tersebar di seluruh Bali, pasca-Proklamasi 1945. Namun, para pejuang kemerdekaan dari Pulau Dewata harus kecewa dengan hasil Perjanjian Linggarjati 1946, yang hanya mengakui kedaulatan Indonesia di Jawa, Madura, dan Sumatra.

patung i gusti ngurah rai
Patung I Gusti Ngurah Rai di pintu keluar bandara Bali.(foto: Instagram @baliairport)

Pasukan Ngurah Rai merespons absennya Bali dari pengakuan kedaulatan itu, dengan menyerbu detasemen Belanda di Tabanan. Pada 20 November 1946, Ngurah Rai dan resimennya gugur dalam serangan balasan besar-besaran Belanda, yang diperingati sebagai Hari Puputan Margarana. Pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputra dan pangkat Brigjen TNI (anumerta) pada 1973, serta gelar Pahlawan Nasional 9 Agustus 1975 kepada Ngurah Rai. Namanya juga disematkan pada kapal perang KRI, serta profil wajahnya diabadikan dalam pecahan uang Rp 50.000 tahun emisi 2005. Meski menggambarkan sosok yang sama, patung setinggi 6 meter yang kini menghiasi gerbang Bandara Ngurah Rai baru diresmikan Presiden 2018 lalu. Sejak itu, patung lama yang lebih pendek 2 meter telah dipindahkan 'pulang' ke Puri Carangsari, tempat yang merawat ingatan kelahiran dan masa kecil I Gusti Ngurah Rai. (Dwi)

#Merawat Ingat
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).

Berita Terkait

Bagikan