MERAHPUTIH.COM - PRODUSER sekaligus komposer musik Lafa Pratomo kembali melanjutkan perjalanan proyek Garis Tegak EP melalui single ketiganya, Terabas. Lagu yanh dirilis pada 15 September 2026 ini mempertemukan dua entitas dengan karakter musik berbeda, yakni Bilal Indrajaya dan The Jansen, dalam sebuah kolaborasi yang membawa pesan sederhana namun penuh energi: menghadapi hidup dengan keberanian untuk terus melangkah dan 'hajar saja!'.
Bekerja sama dengan KithLabo, Garis Tegak EP merupakan proyek kolaboratif yang mempertemukan Lafa dengan 12 musisi lintas genre. Sebelumnya, ia telah merilis Seperti Angka 8 bersama Feby Putri dan Matter Mos serta Bukan Kendalimu bersama Nadhif Basalamah dan Hursa pada Agustus 2026.
Terabas menjadi pertemuan berikutnya dalam rangkaian tersebut. Kali ini, Lafa mempertemukan Bilal Indrajaya dengan The Jansen. Bagi Lafa, perbedaan karakter musik kedua kolaborator justru menjadi alasan utama untuk menghadirkan mereka dalam satu lagu.
"Nah, pertimbangannya justru karena mereka genre musiknya beda. Kalau genrenya sama kan terlalu ketebak aja gitu. Kalau ini kan jadi ada challenge. Ada hal yang seru ketika kita di studio, bisa discover gimana menyatukan kedua entitas ini ya? Lucunya, ternyata bisa," ungkap Lafa Pratomo tentang alasannya mengajak Bilal Indrajaya dan The Jansen sebagai kolaborator di lagu Terabas.
Baca juga:
Lirik Lagu 'Aku Kasmaran', Kolaborasi Religius Haddad Alwi dan Bilal Indrajaya
Alih-alih memaksakan dua warna musik untuk berada di titik yang sama, proses penggarapan Terabas justru memberikan ruang bagi setiap musisi untuk membawa identitasnya. Pertemuan tersebut kemudian dirangkai Lafa menjadi sebuah komposisi yang mempertemukan karakter pop Bilal dengan energi rock The Jansen.
Ajakan tersebut juga mendapat respons positif dari kedua kolaborator. Bilal mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menerima tawaran tersebut, terlebih ketika mengetahui dirinya akan bekerja bersama The Jansen.
"Pas diajakin langsung mau sih. Apalagi bareng The Jansen, ya gas. Enggak kebayang sih gue sebelumnya," ucap Bilal Indrajaya mengenang ajakan Lafa Pratomo untuk menggarap lagu bareng.
Hal senada disampaikan Adji Pamungkas dari The Jansen. Menurutnya, kesempatan untuk bekerja bersama Lafa sebenarnya sudah muncul sebelumnya, tetapi baru dapat terealisasi melalui proyek Garis Tegak.
"Iya, ketika dapat tawaran buat kolaborasi sama Mas Lafa kayaknya enggak pakai pikir panjang buat bilang gas. Dulu kita sempet kontak dengan Mas Lafa karena penasaran gimana rasanya diproduserin orang lain, dan Mas Lafa ialah kandidat yang kami inginkan waktu itu. Ya, karena kesibukan masing-masing baru berjodohnya di proyek ini," tambah Adji Pamungkas.
Proses penciptaan Terabas pun berlangsung secara organik. Sebelum masuk ke studio, Lafa, Bilal, dan personel The Jansen banyak berbincang mengenai kehidupan sekaligus arah musik yang ingin mereka tuju. Dari percakapan tersebut, proses kreatif kemudian bergerak ke tahap workshop dan eksplorasi bunyi.
"Kita lebih banyak ngobrol bareng soal kehidupan di teras. Trus ngobrolin juga kayak nanti arah musiknya mau ke mana? Abis itu kita masuk studio, trus Bilal mancing dengan riff intro yang dia mainkan. Lalu kami saling merespons melodi. Setelah itu kita bikin bagan, lalu nulis lirik deh," papar Lafa Pratomo menggambarkan proses workshop mereka.
Proses tersebut berlangsung relatif cepat. Dalam pertemuan pertama, mereka telah menghasilkan satu draft lagu secara utuh. Pertemuan berikutnya digunakan untuk merekam instrumen dan vokal, hingga akhirnya Terabas selesai melalui tiga kali pertemuan bersama.
"Lumayan cepat kok, satu hari kita udah dapet satu draft utuh untuk lagu ini. Pertemuan kedua kita udah rekaman instrumen sama vokal. Kita cuma ketemu bareng tiga kali untuk nyelesain lagu ini," kata Lafa.
Menariknya, perbedaan latar musik tidak menjadi penghalang dalam proses kreatif mereka. Bilal menyebut kolaborasi tersebut justru berjalan secara alami karena setiap musisi bertukar referensi selama berada di studio.
"Surprisingly, ternyata enggak ada kendala apa pun ya. Ketika kami gonjrengan bareng sih nyambung aja ternyata. Kami lebih banyak sharing referensi musik pas di studio. Ternyata dari semua bunyi-bunyian itu ada benang merahnya kok," ujar Bilal Indrajaya.
Ia juga melihat Terabas sebagai karya yang tidak menghilangkan karakter dari setiap pihak. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian penting dari bentuk akhir lagu.
"Dan lagu ini pun enggak membuat kami jadi keluar dari warna masing-masing gitu. Ini seperti menggabungkan tiga dunia yang berbeda lalu dijahit gitu. Dari verse-nya gimana, chorus-nya gimana, itu dinamis banget. Pas dijahit sama Lafa terdengar mantap sih," pungkasnya. (Far)