MerahPutih.com - Gelandang asal Jepang, Kyohei Yoshino ingin menjadi bagian dari perjalanan Persija Jakarta meraih gelar juara menjelang momen bersejarah klub yang akan memasuki usia 100 tahun pada 2028. Gelar juara Persija juga akan menjadi istimewa bagi kota Jakarta.
Persija memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi juara. Jakarta akan merayakan hari jadinya yang ke-500 pada 2027 dan Persija akan berusia 100 tahun pada 2028. Klub ini benar-benar ingin menjadi juara dalam periode tersebut dan saya ingin menjadi bagian dari perjalanan itu,
kata Kyohei Yoshino.
Ia menjelaskan bahwa ambisi kuat Persija yang menjadi alasannya menerima tawaran.
“Kehadiran Coach Shin Tae-yong juga menjadi salah satu alasan saya bergabung,” kata Kyohei di laman klub.
Siap Beradaptasi dan Tunjukkan Profesionalisme
Berbekal pengalaman bermain di Jepang dan Korea Selatan, Kyohei bertekad membawa kedisiplinan, kerja keras, dan profesionalisme ke dalam skuad Persija. Meski demikian, ia juga menyadari pentingnya beradaptasi dengan budaya Indonesia dan karakter rekan-rekan setimnya.
Baca juga:
Persebaya Tetap Realistis di Setiap Pertandingan Piala Presiden 2026, Dimulai Melawan Persija
Kondisi Fisik Pemain Persija Belum 100 Persen, Shin Tae-yong Hati-hati di Piala Presiden 2026
“Saya ingin membawa kedisiplinan dan kerja keras. Namun, saya juga harus beradaptasi dengan budaya Indonesia dan memahami karakter rekan-rekan satu tim. Saya ingin beradaptasi secepat mungkin, bekerja keras, dan menunjukkan kedisiplinan setiap hari,” tuturnya.
Kyohei menegaskan bahwa sebagai pemain berpengalaman, ia ingin memberikan contoh melalui profesionalisme, baik saat latihan maupun pertandingan.
“Saya sudah bukan pemain muda lagi. Karena itu, saya harus menunjukkan kemampuan serta profesionalisme, baik dalam latihan maupun pertandingan. Bukan hanya besok atau lusa, tetapi setiap hari saya harus berjuang dan menunjukkan kemampuan kepada rekan-rekan satu tim. Itulah tanggung jawab seorang pemain sepak bola profesional,” ucapnya.
Di luar lapangan, Kyohei mengaku keluarga menjadi sumber semangat yang membantunya mengatasi tekanan dan memulihkan energi setelah pertandingan.
“Setelah pertandingan, mungkin saya memiliki banyak pikiran atau merasa stres. Namun, semua itu akan hilang ketika saya menghabiskan waktu bersama keluarga. Mereka membantu saya mengisi kembali energi dan menjadi lebih kuat,” ujarnya. (*)

