KSDD, Jagoan Negeri Aing Selalu Siap Mendonorkan Darah Meski Pandemi
Komunitas Sahabat Donor Darah didirikan untuk membantu mencukupi ketersediaan darah di Indonesia. (Foto: merahputih.com/Felisitas Citra)
BAGI sebagian orang, mendengar kata ‘donor darah’ mungkin terdengar sangat mengerikan. Membayangkannya saja mungkin sudah membuat bulu kuduk berdiri. Anggapan ini menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis ketersediaan darah selama 40 tahun. Terlebih di tengah situasi pandemi.
Meski begitu, keterbatasan ruang untuk melakukan kegiatan donor darah dan ketakutan orang untuk beraktivitas di luar mendorong Erick Hermanto mendirikan Komunitas Sahabat Donor Darah (KSDD).
Baca Juga:
KSDD telah berdiri selama satu tahun. Tepatnya komunitas ini didirikan pada 11 Agustus 2020. Erick Hermanto mendirikan komunitas ini di tengah situasi pandemi karena dilandasi oleh kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan darah, khususnya di daerah Jakarta.
Seluruh kegiatan donor darah yang biasanya rutin dilaksanakan setiap dua hingga tiga bulan sekali telah terhenti. Kantor, rumah ibadat, dan pusat perbelanjaan tentunya tidak diperbolehkan untuk mengadakan acara rutin ini untuk menghindari adanya kerumunan. Di tengah keterbatasan ini, KSDD hadir sebagai jagoan yang memenuhi kebutuhan darah masyarakat Indonesia.
KSDD memiliki dua kegiatan inti yang dirancang untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan darah, yaitu pendonor darah langsung (PDL) dan aksi nyata donor darah (ANDD). Kedua kegiatan ini dirancang untuk saling melengkapi.
Kegiatan PDL dilakukan KSDD untuk mencarikan pendonor untuk memenuhi kebutuhan darah yang dibutuhkan hingga tercukupi. Sedangkan ANDD dilakukan untuk memenuhi ketersediaan darah yang dilakukan secara kolektif. Dengan dilaksanakannya ANDD diharapkan PMI memiliki ketersediaan darah yang cukup, sehingga saat ada permintaan, PMI dapat langsung memberikannya tanpa harus membuat pasien menunggu.
Kedua kegiatan yang dilakukan KSDD sejalan dengan visi dan misi yang mereka miliki. Visi mereka adalah untuk membantu masyarakat Indonesia memiliki ketercukupan ketersediaan darah. Sedangkan misi KSDD disingkat menjadi PEKA, yaitu Penghubung pendonor dengan pasien, Edukasi, Komunikatif, dan Aksi nyata donor darah.
“Selain menjadi penghubung antara pendonor dengan pasien yang membutuhkan darah, kami merasa edukasi masyarakat juga merupakan sesuatu yang penting. Terlebih mengedukasi mereka bahwa melakukan donor darah di tengah pandemi itu aman kok,” jelas Yulia Mareta, Wakil Ketua Aksi Nyata Donor Darah di Komunitas Sahabat Donor Darah.
Baca Juga:
Batavia Artanugraha, Wedding Organizer Jagoan Bagi Calon Pengantin
Yulia Mareta atau akrab disapa Reta menjelaskan bahwa situasi pandemi sangat berdampak bagi jumlah ketersediaan darah yang semakin menipis. Padahal setiap harinya, terdapat sekitar 1.200 permintaan darah di daerah Jakarta. Namun banyaknya permintaan darah tidak diimbangi dengan jumlah pendonor.
Kini di tengah situasi pandemi jumlah pendonor hanya mencapai 600 orang saja. Bahkan Reta menjelaskan bahwa PMI pernah hanya memiliki sekitar 400 orang. Ketimpangan ini membuat PMI harus menjemput bola dengan melakukan kegiatan donor darah di kelurahan-kelurahan di Jakarta. Jumlah itu semakin menurun pada April 2021 yang bertepatan dengan ramadan.
“Saat pandemi saja jumlahnya sudah menurun, ditambah bertepatan dengan bulan puasa, jumlahnya pendonor semakin sedikit. Padahal saat berpuasa itu, kondisi darah sangat baik loh, tapi hampir sebagian besar takut lemas setelah mendonorkan darah saat puasa, padahal tidak,” jelas Reta. Kurangnya edukasi dan pengetahuan masyarakat terkait kegiatan donor darah mendorong Reta untuk terus melakukan banyak kegiatan, salah satunya aktif untuk memberikan informasi terkait donor darah di akun Instagram mereka.
Alasan lain yang membuat Reta bersemangat untuk terus mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk melakukan donor darah karena penurunan jumlah pendonor juga berpengaruh terhadap kesehatan pasien Thalasemia.
“Beberapa kali saya mendengar terdapat beberapa pasien Thalasemia yang meninggal. Karena tubuh mereka itu akan terus membutuhkan transfusi darah setiap dua minggu sekali. Jadi dalam situasi seperti ini mereka dan pasien COVID-19 yang kami perhatikan lebih,” jelas Reta. Kondisi ini mendorong KSDD untuk melaksanakan kegiatan donor darah bagi pasien Thalasemia. Tapi karena keterbatasan waktu dan kondisi, KSDD belum dapat merealisasikannya.
Walaupun pasien Thalasemia dan COVID-19 menjadi fokus utama KSDD saat ini, hal ini tidak membatasi KSDD untuk membantu pasien lain yang membutuhkan darah. Dewi salah satunya. Ia merasa terbantu dengan hadirnya KSDD saat dirinya mengalami kesulitan untuk mencari ketersediaan darah untuk sang ibu. Saat itu, Dewi membutuhkan darah dengan golongan O yang relatif sulit untuk dicari. Darah tersebut dibutuhkan untuk mendukung proses pengobatan kemoterapi sang ibu.
“Waktu itu saya mengetahui komunitas ini dari teman dan melihat-lihat di Instagramnya. Saya sempat bingung karena ketersediaan darah yang sesuai dengan ibu saya sangat susah untuk dicari. Namun saat menghubungi KSDD, keesokan harinya saya langsung dihubungi dengan pendonor yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan,” pungkas Dewi. (cit)
Baca Juga:
Pemburu Anti Hoaks, Jagoan Negeri Aing di Tengah Kepalsuan Informasi