MerahPutih.Com - Sejak Piala Dunia 2018 di Rusia bergulir pertengahan Juni silam, tak banyak pengamat atau wartawan sepak bola yang menyebut Kroasia sebagai tim unggulan. Luka Modric dan kawan-kawan justru masuk dalam daftar kuda hitam. Artinya, paling banter Kroasia hanya sampai perempat final, kalau beruntung semifinal.
Kroasia mengejutkan pencinta sepak bola manakala membungkam Argentina tiga gol tanpa balas. Padahal Argentina datang ke Rusia lengkap dengan sang mega bintang, Lionel Messi sebagai sosok protagonis beserta sejumlah nama beken yang mengisi daftar top score liga-liga elite Eropa.
Merefleksikan perjalanan Kroasia menuju final Piala Dunia bagi Presiden UEFA Aleksander Ceferin merupakan sebuah keajaiban. Betapa tidak, Kroasia termasuk negara kecil di pelataran Laut Adriatik dengan total penduduk 4,2 juta jiwa.
Bagi Ceferin, keberhasilan skuat asuhan Zlatko Dalic membuka kepercayaan diri bagi negara-negara kecil untuk mendapat sorotan di panggung global sekelas Piala Dunia.
Kroasia, yang menembus empat besar pada Piala Dunia 1998, menghadapi juara pada tahun itu, Prancis, di pertandingan final pada Minggu di Moskow.
"Ini jelas merupakan hal yang bagus dan kembali membuktikan pekerjaan bagus yang dilakukan sepak bola Eropa," kata Ceferin kepada televisi Russia Today saat diwawancarai Sabtu, (14/7).
"Bagi negara berpenduduk empat juta orang, merupakan keajaiban untuk dapat masuk ke final Piala Dunia. Mereka telah memperlihatkan begitu besar hati, begitu besar hasrat, begitu besar semangat juang, yang saya tidak dapat mengatakan bahwa mereka tidak dapat menang pada Minggu,"ungkap Ceferin.
Sebanyak enam dari delapan tim peserta perempat final turnamen tahun ini berasal dari Eropa, dan Ceferin tidak terkejut melihat dominasi negara-negara Eropa di World Cup Rusia.
"UEFA melakukan pekerjaan bagus, bukan sejak saya berada di sini atau karena saya berada di sini, namun karena mereka melakukan pendekatan pengembangan sepak bola dengan sedikit berbeda maka kesenjangannya akan semakin lebar dan melebar," tambah Ceferin.
Dipimpin pemain berpengalaman sekaligus bertalenta seperti Modric, Kroasia tampil menghempaskan tim-tim unggulan seperti Inggris, Nigeria dan tuan rumah Rusia. Kroasia juga tercatat sebagai tim dengan menit bermain lebih lama di banding tim-tim lain karena harus melewati babak extra time dan adu penalti. Dengan ujian berat yang telah dilewati, Ceferin percaya bahwa Kroasia layak mendapat satu tempat di final.
Keberhasilan Kroasia tidak terlepas dari pembinaan dan kompetisi sepak bola Eropa yang terorganisir dan tertarget. Badan sepak bola Eropa UEFA menunjukan kepada negara lain di dunia bahwa Kroasia adalah bukti.
"Kami mendapatkan banyak uang dengan semua kompetisi kami. Kami mengalokasikan uang dengan tepat. Kami memiliki pertemuan-pertemuan kepelatihan. Kami bekerja dengan para pemain yang membantu asosiasi-asosiasi nasional. Kami bekerja dengan pengelolaan yang bagus, "papar Ceferin sebagaimana dilansir Antara dari Reuters.
Jika ada yang menyatakan Piala Dunia Rusia dengan cita rasa Piala Eropa, karena finalnya mempertemukan Prancis vs Kroasia, itu bukan kemunduran justru menunjukan keberhasilan UEFA mengelola sepak bolanya satu tingkat diatas federasi sepak bola dari benua Amerika, Asia, Afrika dan Australia-Oceania.
"Kami berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur, pada perkembangan sektor teknis sepak bola... Kami melihat ini merupakan cara yang tepat untuk mencapat kesuksesan dan pengembangan sepak bola." "Sekarang setiap anak di Eropa dapat dipandang sebagai satu talenta dan saya tidak yakin apakah hal seperti itu ada di seluruh dunia, "pungkas Aleksander Ceferin.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Belgia Terlalu Tangguh untuk Inggris Dalam Perebutan Posisi Ketiga Piala Dunia 2018