Kisruh Politik 2015, Bangkitkan Lagi Pembicaraan "Indonesia Pecah"

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Jumat, 20 Februari 2015
Kisruh Politik 2015, Bangkitkan Lagi Pembicaraan

Foto: Istimewa

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Politik- Tahun 2007 silam, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh pernyataan Djuyoto Suntani dalam acara Dialog Kebangsaan yang berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok. Dalam acara tersebut, Djuyoto sekaligus merilis bukunya yang meramalkan secara ilmiah, Indonesia akan pecah pada tahun 2015. Masih menurut buku tersebut, Indonesia diprediksi akan pecah menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil yang didirikan berdasarkan kepentingan rimordial (kesamaan etnis), ikatan ekonomis (kepentingan bisnis), ikatan kultur (kesamaan budaya), ikatan ideologis (kepentingan politik), dan ikatan religius (membangun negara berdasarkan agama).

Dalam bukunya tersebut, Djuyoto juga menuliskan perihal siklus 70 tahun. Ia mempercayai, alam ini mengikuti suatu siklus, termasuk eksistensi suatu bangsa dan negara, sesuai dengan ketentuan hukum alam.

Penulis juga mengambil contoh, pada saat Kerajaan Sriwijaya berkuasa pada abad 6-7 M, Nusantara (Indonesia) begitu kuat. Namun memasuki usia 70 tahun, pengaruhnya mulai meredup dan muncul kerajaan kecil yang berdaulat. Alhasil, di awal abad ke-9, nama Kerajaan Sriwijaya pun hanya tinggal sejarah.

Kondisi tersebut disusul oleh Kerajaan Majapahit. Kedigjayaan kerajaan yang menurut sejarah dapat mempersatukan Nusantara tersebut hilang setelah 70 tahun pemerintahan mereka. Setelah itu, muncul kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. (Baca: Kisah Bung Karno dan Keris Pusaka dari Majapahit)

Dalam buku tersebut, Djuyoto juga mengungkapkan perihal fenomena yang terjadi di Indonesia dan meramalkan perpecahan tersebut terjadi di usia Indonesia ke-70 tahun. Ia menyebutkan, perpecahan itu terjadi akibat pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik tidak kunjung selesai. Penyebab kedua, menurut buku tersebut Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa, setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto.

"Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan," tulis Djuyoto dalam buku tersebut.

Penyebab ketiga, banyaknya tokoh yang masing-masing ingin menjadi nomor satu di suatu negara.

"Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana, uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan menjadi presiden," urainya.

Penyebab berikutnya, menurut Djuyoto adalah adanya konspirasi global. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Yang menarik, Djuyoto menyebutkan di bukunya, penyebab kelima Indonesia pecah adalah nama yang masih merupakan warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur atau yang dikenal dengan nama Hindia Belanda. Bahkan kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas masih sering menyebut Indonesia dengan singkatan In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau singkatan dari Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Padahal, menurutnya, Indonesia bernama asli Nusantara yang berasa dari Bahasa Sansekerta, Nusa berarti pula dan antara. Artinya negara yang terdiri dari kepulauan.

Kondisi Indonesia yang saat ini tengah diributkan lagi perihal kisruh elite politik, seperti KPK versus Polri, menjadikan pembicaraan Indonesia pecah kembali mencuat di media sosial. Djuyoto saat ini dikabarkan tinggal di Malaysia. (wan)

#Dulu Dan Kini #Indonesia Pecah 2015 #70 Tahun Indonesia Merdeka
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Bagikan