Kisah Suram di Balik Karangan Bunga

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 15 Desember 2019
Kisah Suram di Balik Karangan Bunga

Keindahan karangan bunga ternyata menyimpan kisah kelam. (foto: unsplash)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TERLIHAT cantik, indah, dan mewah, karangan bunga menjadi simbol dengan sejuta makna dalam berbagai kesempatan di kehidupan sosial manusia. Aromanya yang khas, warnanya yang beragam, serta keindahan detail bunga segar mampu menjadikan bunga sebagai pilihan favorit berkonotasi romantis selama berabad-abad.

Di balik keringkihan serta masa hidupnya yang singkat, bunga segar ternyata ada yang diimpor dari luar negeri untuk mendapatkan kualitas terbaik. Tidak mengherankan jika karangan bunga dibanderol dengan harga yang cukup mahal.

BACA JUGA: 4 Bunga Termahal di Dunia

Terlepas dari kecantikkan parasnya, karangan bunga ternyata punya berdampak buruk bagi lingkungan. Untuk menumbuhkan bunga, butuh banyak air dan berbagai bahan kimia seperti pestisida untuk mencegah hama.

Terlepas dari penggunaan air bersih yang berlimpah, kita juga harus memikirkan dampak polusi udara yang dihasilkan dari distribusi bunga. Dilansir dari Eluxe Magazine, setelah dipanen, bunga-bunga akan dikirimkan lewat truk berpendingin melewati Amerika Serikat dan diinapkan semalam dalam kotak dingin sebelum dihantarkan ke toko bunga di seluruh dunia.

bunga
Butuh banyak air untuk budi daya bunga. (foto: pixabay/pixel2013)

Salah satu toko bunga bernama Flower Petal mengatakan bahwa mereka telah mencoba membatasi dampak lingkungan dari bisnis karangan bunga, namun tetap saja masih berkontribusi dalam 9.000 metrik ton emisi karbon dioksida dari tempat panen sampai ke toko bunganya di Amerika Serikat dalam pengantaran 100 bunga mawar saat hari Valentine.

Lantas, apa yang harus dilakukan bagi mereka yang masih memilih karangan bunga sebagai tanda sayang? Solusi yang paling utama tentunya ialah dengan menggunakan bunga palsu, atau artificial flower. Jika kamu merasa bunga palsu kurang autentik, cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan membeli bunga lokal untuk meminimalisasi transportasi bunga impor yang bisa berdampak pada lingkungan.

bunga
Bunga artificial bisa jadi substitusi. (foto: pixabay/fotografielink)

Menyesuaikan dengan permintaan bunga yang semakin tinggi menjelang acara-acara kelulusan, ulang tahun, pemakaman, atau anniversary, Grown and Gathered mengatakan bahwa kebanyakan bunga ditanam di hoop house atau semacam rumah kaca yang terbuat dari plastik dan tentunya akan menambahkan limbah plastik di dunia.

Membahas tentang bunga, tentunya sebagian besar dari kita menyukai bunga tulip. Ketika penanaman di pertanian komersial, umbi akan ditanam, dan seketika bunganya dipanen, umbi akan dihancurkan, dan umbi baru akan dibeli lagi dan diimpor dari luar negeri, terutama Belanda untuk mempercepat waktu. Jika secara alami, ketika bunga tumbuh dari umbi, umbi tersebut masih bisa bertahan di tanah selama bertahun-tahun, membelah dan menjadi lebih produktif tanpa harus dihancurkan.(shn)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan