MERAHPUTIH.COM - PADA akhir 2022, Sam Shepherd, musisi yang ada di belakang moniker Floating Points, berada di gurun California. Ia mengerjakan album barunya, Cascade, dengan cara yang berbeda, bahkan lebih sederhana.
“Aku memiliki studio di rumah dengan semua peralatan yang sering aku gunakan, tapi aku sedang tidak berada di sana jadi aku hanya menggunakan laptopku dan melakukan semuanya lewat headphone,” ujar Shepherd dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.
Floating Points dikenal lewat komposisi musik elektronik nan kompleks dan progresif. Floating Points menyajikan sebuah perpaduan sound yang brilian lewat berbagai genre termasuk house, techno, jazz, soul, dan musik klasik.
Album Cascade yang akan rilis pada 13 September ini jadi sebuah ledakan dari berbagai hal yang belum terselesaikan. Hubungannya dengan musik elektronik dan kota asalnya, yaitu Manchester, memiliki makna yang berbeda selama proses pembuatan album ini.
Baca juga:
Inspirasi Radio Underground dalam Single ‘Key 103’ dari Floating Points
Sejumlah lagu di album Cascade terinspirasi dari dust bowl di gurun California. Meski begitu, album baru Shepherd ini merupakan album tentang masa muda Shepherd yang ia habiskan di Manchester. Di sanalah Shepherd menemukan kekuatan musik elektronik yang sesungguhnya dalam berbagai bentuk.
Meski album Cascade merupakan kelanjutan dari album Sam sebelumnya, yaitu Crush (2019), berbagai batas ia dobrak dalam album barunya mendatang. Sembilan lagu di Cascade dibiarkan bersinar selama delapan menit yang memberikan setiap lagu ruang untuk menjelajahi berbagai sound dan groove.
“Aku selalu mengejar berbagai tantangan,” ujar musisi yang sudah beberapa kali tampil di Potato Head Beach Club, Bali, ini. Album Cascade menjadi bukti bahwa di dalam topik seputar inovasi musik elektronik dan karya-karya luar biasa yang menggugah semua pendengarnya, Floating Points akan selalu memiliki banyak hal yang belum terselesaikan.
“Aku selalu menginginkan semuanya bergerak menuju tempat yang membuatku bersemangat. Seperti berkolaborasi dengan orkestra yang terdiri dari 100 orang atau bekerja sendiri dengan sebuah laptop,” tutupnya.(dwi)
Baca juga:
Rilis ‘Problems’, Floating Points Hadirkan Musik dalam Gambar Vektor