Merahputih.com - Di balik gemerlapnya lapangan hijau, kisah Jamal Bhuyan kapten Timnas Bangladesh menyimpan rentetan keajaiban luar biasa karena ia sukses lolos dari maut setelah ditembak empat kali di masa lalu.
Insiden berdarah yang sempat membuatnya koma berhari-hari ini nyatanya gagal menghentikan langkah profil Jamal Bhuyan untuk bangkit menjadi legenda hidup sepak bola negaranya.
Menjelang laga krusial di FIFA ASEAN Cup, ini dia ulasan lengkap perjalanan karir sang kapten yang kini bersiap memimpin pasukannya untuk lawan Timnas Indonesia.
Baca juga:
Membicarakan tragedi penembakan Jamal Bhuyan, kita harus mundur ke dua dekade lalu saat sang kapten Timnas Bangladesh ini masih merintis karir dan menetap di Kopenhagen, Denmark.
Siapa sangka, peluru yang nyaris merenggut nyawanya justru menjadi titik balik yang mengantarkan sosok gigih ini meniti karir profesional dari klub Denmark, India, Argentina, hingga menjadi pilar tak tergantikan di negaranya.
Menginjak usia 36 tahun dan hampir menyentuh 100 caps internasional, semangat Jamal Bhuyan jelang FIFA ASEAN Cup ternyata tak pernah luntur sedikipun.
Tragedi Mencekam di Kopenhagen: Antara Nyawa dan Lapangan Bola
Momen mengerikan itu terjadi saat Jamal masih berstatus pemain muda di akademi FC Copenhagen. Jika saja peluru itu meleset beberapa milimeter ke arah yang lebih fatal, pria ini mungkin tak akan pernah mencicipi indahnya sepak bola internasional.
"Lalu satu atau dua saat kemudian peluru datang dan saya tertembak empat kali. Saya menghabiskan tiga hari dalam keadaan koma dan kemudian beberapa bulan lagi di rumah sakit untuk masa pemulihan," sambung dia.Saya lahir dan besar di Kopenhagen, dan di sanalah pada suatu sore saya tertembak. Saya sedang berada di dekat sekolah, memakai ransel, lalu ada seorang pria berlari dan menyuruh kami pergi dari area tersebut. Saya sempat bingung apa yang dia maksud,
cerita Jamal.
Uniknya, kecintaan Jamal pada sepak bola mengalahkan rasa sakitnya. Saat siuman dari koma, hal pertama yang ada di pikirannya adalah pertandingan.
Ketika saya bangun dari koma, saya ingat memberi tahu perawat bahwa saya harus menelepon pelatih dan bilang tidak bisa ikut pertandingan besok. Perawat itu bertanya menurut saya ini hari apa, dan saya jawab 'ya, ini hari Jumat.' Lalu dia berkata 'tidak, ini hari Senin,' sambil memberikan koran untuk menunjukkan apa yang sebenarnya telah terjadi,
jelas Jamal.
Mengabdi untuk Negara: Hampir 100 Caps Bersama The Bengal Tigers

Bagi sang gelandang bertahan ini, bermain untuk tim nasional bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. Meskipun usianya tak lagi muda, ia tidak punya niatan untuk pensiun dalam waktu dekat.
"Tentu saja semuanya ada akhirnya, tetapi saat ini saya merasa tubuh saya masih bugar dan saya memiliki ikatan batin yang kuat dengan tim nasional dan Bangladesh pada umumnya," tegasnya.
Menjadi satu dari 23 pemain yang terpilih mewakili hampir 180 juta penduduk Bangladesh memberikan beban kebanggaan tersendiri bagi Jamal.
"Itu bukan sesuatu yang saya anggap enteng. Setiap kali saya turun ke lapangan atau bersama tim nasional, rasanya sangat istimewa karena saya sudah melihat banyak pemain datang dan pergi selama bertahun-tahun. Semakin lama saya di sini, semakin saya menikmatinya," beber dia.
Gila Bola: Keliling Amerika Demi Piala Dunia
Selain jago di lapangan, Jamal nyatanya adalah penikmat sepak bola sejati. Ia tumbuh sebagai penggemar berat timnas Brasil sejak tahun 1997.
Bahkan, ia baru saja pulang dari petualangan serunya berkeliling Amerika Serikat untuk menonton langsung ajang Piala Dunia.
Selama tiga minggu, Jamal berpindah-pindah dari New York, Miami, Dallas, Houston, Kansas, LA, hingga Seattle demi menonton enam sampai tujuh pertandingan. Menariknya, momen terbaiknya justru bukan saat menonton tim jagoannya.
"Meski saya fans Brasil, tapi jujur momen puncaknya mungkin saat berada di pertandingan Argentina vs Mesir. Ada begitu banyak drama! Mulai dari gol yang tercipta, gol yang dianulir, melihat fans Argentina menangis saat tertinggal, hingga seluruh stadion menjadi gila di akhir laga. Bahkan sebagai fans Brasil saya merasa, ini atmosfer yang gila!" tuturnya.
Ambisi Realistis di FIFA ASEAN Cup & Mimpi Besar Tampil di Piala Dunia
Kini, fokus Jamal sepenuhnya beralih ke laga pembuka FIFA ASEAN Cup, di mana mereka akan menghadapi atmosfer panas Jakarta saat melawan tuan rumah, Indonesia. Turnamen ini jadi ajang pembuktian skuad berjuluk Red and Green Warriors melawan kekuatan utama sepak bola Asia Tenggara.
Kami sangat menantikan bermain di depan kerumunan besar pendukung di Jakarta. Kami sadar bahwa kami adalah tim dengan peringkat terendah di grup bersama Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tapi kami menargetkan untuk mencuri tiga atau empat poin, dan dalam sepak bola, Anda tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi, kan?
Di balik target jangka pendeknya, Jamal menyimpan satu mimpi gila yang ingin ia capai sebelum gantung sepatu: melihat Bangladesh berlaga di panggung Piala Dunia.
Di Bangladesh, saat Piala Dunia suasananya sangat gila. Anda akan melihat setiap gedung memasang bendera Brasil atau Argentina. Kalau mereka main, ada 20 hingga 30 ribu orang yang nobar di layar lebar. Jadi, bayangkan saja jika kami bisa benar-benar bermain di Piala Dunia... itu akan menjadi tingkat kegilaan yang sama sekali berbeda!
tutupnya.