Kisah Jawara Betawi di Kampung Sawah yang Memeluk Agama Katolik
Umat Katolik mengenakan busana adat Betawi saat mengikuti Misa Natal di Gereja Santo Servatius, Kampung Sawah, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/12). (Foto Antara/Risky Andrianto)
MerahPutih Budaya - Sekitar delapan pria berkostum ala pendekar Betawi tampak hilir mudik di sudut-sudut Gereja Santo Servatius Kampung Sawah, di Jati Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada perayaan Natal, Kamis (24/12) malam.
Layaknya jawara Betawi, mereka memakai baju koko berwarna hitam dan celana pangsi berbalut sarung, serta tak lupa peci dan golok tampak mentereng terselip di pinggang.
Mereka adalah para pengawal yang disebut Krida Wibawa, para pendekar pengawal perarakan imam sejak dari sakristi hingga menuju altar. Demikian juga saat perarakan persembahan dan perarakan imam pulang menuju sakristi.
Para pendekar tersebut tidak ikut ke panti imam, melainkan mengawal dari dekat pintu utama gereja, sesekali mondar mandir mengawasi jalannya misa yang saat itu diikuti lebih dari lima ribu jemaat dan membantu mencarikan tempat duduk bagi jemaat yang baru datang.
"Krida Wibawa hanya ada di paroki ini, di tempat lain tidak ada," kata seorang anggota kelompok tersebut, Eddy Pepe, kepada ANTARA News.
Kelompok Krida Wibawa dibentuk pada 1997, dan sekarang beranggotakan sekitar 30 orang berusia 28 hingga 60 tahun. Untuk menjadi anggotanya tidak bisa sembarangan, melainkan harus berasal dari keturunan Betawi asli Kampung Sawah.
Eddy merupakan generasi penerus Krida Wibawa. Ayahnya Gregorius Pepe adalah salah satu penggagas dibentuknya kelompok pengawal tersebut sebagai upaya mengakulturasikan budaya Betawi ke dalam tradisi gereja.
"Paling tidak kami bisa mempertahankan adat Betawi karena gereja ini sejarahnya tidak lepas dari Betawi," kata pemuda yang sebelumnya aktif di dewan paroki itu.
Ia mengemukakan, kostum Krida Wibawa merupakan pakaian khas Betawi yang sehari-hari dipakai warga asli Kampung Sawah.
"Sehari-hari pakai baju koko dan peci. Jadi, itu yang kami pakai di gereja," ujarnya.
Eddy adalah keturunan keempat penganut Katolik dari masyarakat Betawi Kampung Sawah. Dalam sejarahnya, gereja yang telah berusia lebih dari seabad itu sebagian besar beranggotakan warga Katolik dari Betawi di wilayah Kampung Sawah.
Oleh karena itu, budaya Betawi masih ditunjukkan oleh para anggota gereja, termasuk lewat kelopok Krida Wibawa.
Krida Wibawa berasal dari kata Krida yang berarti kerja, dan Wibawa. Mereka tidak hanya bertugas menjadi pengawal liturgi yang memastikan Perayaan Ekaristi berjalan dengan lancar, namun menjalin komunikasi dari teman-teman sesama orang Betawi.
"Setiap bulan kami kumpul, berbagi tugas, menjalin komunikasi," ujar Eddy, yang juga Ketua Komunitas Suara Kampung Sawah.
Kehadiran Krida Wibawa, menurut Eddy, diapresiasi warga, termasuk yang bukan orang asli Betawi.
"Jemaat sudah terbiasa dengan kehadiran kami, bahkan ada banyak dari suku lain yang mau bergabung, tetapi memang tidak bisa karena harus keturunan asli dari Kampung Sawah," jelasnya.
Kehadiran Krida Wibawa merupakan bagian dari misi Budaya Paroki Santo Servatius Kampung Sawah untuk melestarikan budaya Betawi.
"Kami ingin memberi ruang kepada kearifan lokal agar masuk ke dalam tradisi gereja. Salah satunya dengan Krida Wibawa," kata salah seorang jemaat asli Kampung Sawah, Richard Jacob Napiun.
Oleh sebab itu, menurut mantan Wakil Ketua Dewan Paroki Santo Servatius tersebut, anggota Krida Wibawa juga diberi bekal pengetahuan soal keagamaan dan budaya Betawi.
"Mereka diberikan pemahaman tentang keagamaan, perayaan, dan pemahaman budaya Betawi yang harus diperdalam," tutur Jacob.
Sekitar 118 tahun lalu, Pastur Bernardus Schweitz asal Belanda membaptis 18 anak Betawi di Kampung Sawah yang dijadikan sebagai hari kelahiran umat Katolik Kampung Sawah.
Saat ini terdapat 30 persen warga Betawi Kampung Sawah dari total 8.000 jemaat paroki tersebut.
Pada perayaan natal di Gereja Santo Servatius, Kamis malam, adat Betawi pun semakin terasa dari banyaknya jemaat dan panitia yang menghadiri misa dengan mengenakan peci dan baju koko. Suasana yang jarang ditemukan di gereja lainnya.
BACA JUGA:
- Paus Fransiskus Kecam Gaya Hidup Konsumerisme dan Hedonisme
- Malam ini Natal Berbarengan dengan Bulan Purnama Setelah 40 Tahun
- Natal dan Maulid Nabi Berdekatan, Ini Pesan Jokowi
- Dubes AS Peringatkan Warganya Tentang Ancaman Teror di Hari Natal
- Tradisi Unik Keluarga Aldi CJR saat Rayakan Natal
Bagikan
Berita Terkait
Angkutan Kota di Bandung Tidak Beroperasi Saat Pergantian Tahun, Sopir Dapat Kompensasi
31 Rumah Sakit Umum Daerah Jakarta Diperintah Siaga Saat Pergantian Tahun
10.117.847 Orang Telah Bepergian Menggunakan Angkutan Umum Buat Liburan Nataru
Lirik Nama-Mu Kudus Tuhan, Sebuah Lagu Natal Menampilkan Perpaduan Kuat Dari Karakter Vokal Berbeda
Meriahkan Natal 2025 Ornamen Tematik Hiasi Trotoar Sudirman Jakarta
99,4 Persen Kapasitas Kereta Jarak Jauh Sudah Terbeli Penumpang Nataru
TMII Targetkan 430 Ribu Pengunjung, Beri Lapak Khusus Bagi UMKM
10 Kereta Jarak Jauh Paling Diminati Pemudik Nataru 2026
Lagu Legendaris Feliz Navidad Yang Dirilis 1970 Selalu Menemani Saat Perayaan Natal
Serangan Terhadap Warga Sipil Terjadi Jelang Natal di Yahukimo, Polisi Duga Pelaku KKB