Merahputih.com - Penantian panjang kiper keturunan Vietnam, Patrik Le Giang, akhirnya terbayar lunas setelah resmi mendapat panggilan untuk membela Timnas Vietnam.
Keputusan besar pria berusia 34 tahun ini untuk meninggalkan kompetisi Eropa pada 2023 menjadi bukti nyata dedikasinya demi mewujudkan mimpi bermain di tanah kelahiran sang ayah. Kisah inspiratif ini langsung menjawab rasa penasaran publik terkait komitmen Le Giang yang rela melewati proses naturalisasi panjang.
Baca juga:
Timnas Vietnam Tiba di Indonesia, Misi Juara FIFA ASEAN Cup Edisi Perdana Kembali Dikumandangkan
Jauh sebelum profil Patrik Le Giang dikenal publik sepak bola Asia, pahlawan pertamanya bukanlah sosok tenar, melainkan kakak kandungnya sendiri, Emil Le Giang.
Berkat pengaruh sang kakak, penjaga gawang andalan Timnas Vietnam ini mulai jatuh cinta pada sepak bola dan membangun kariernya dari bawah. Sebelum mengidolakan nama-nama besar seperti Gianluigi Buffon dan Iker Casillas, kiper naturalisasi Vietnam kelahiran Lucenec, Slovakia ini sudah punya role model yang menuntunnya di rumah.
Sosok Sang Kakak Sebagai Pahlawan Pertama

Dalam perjalanan kariernya, Patrik selalu mengakui betapa besar pengaruh keluarganya, terutama Emil. Ia menceritakan betapa kakaknya adalah sosok sentral di balik keputusannya terjun ke dunia sepak bola.
Pahlawan pertama dan terhebat saya selalu kakak saya, Emil. Dialah alasan saya mulai bermain sepak bola,
ungkap Patrik. “Ketika saya masih muda, saya menjadikannya panutan dalam segala hal. Jadi bahkan sebelum saya tahu tentang idola sepak bola terkenal, saya sudah punya pahlawan di rumah.”
Peran Vital Martin Dubravka di Awal Karier
Seiring berjalannya waktu, Patrik berhasil menembus akademi MSK Zilina hingga masuk ke skuad utama. Di momen krusial masa transisi dari level junior ke senior inilah, ia bertemu dengan sosok mentor yang sangat berpengaruh, yakni Martin Dubravka.
Saat saya masuk ke lingkungan tim utama di Zilina, dia (Dubravka) langsung membimbing dan merangkul saya,
kenangnya.
Dubravka mengajari banyak hal tentang kerasnya tuntutan sepak bola di level senior. Bekal ilmu inilah yang kemudian membawa Patrik melanglang buana ke berbagai klub di Slovakia dan Republik Ceko, sebelum akhirnya membuat keputusan besar terbang ke Asia.
Menanti 3 Tahun Demi Seragam Timnas Vietnam
Pada tahun 2023, Patrik mantap pindah ke Vietnam, negara asal ayahnya. Sambil terus aktif bermain di liga lokal, ia dengan sabar mengurus dokumen kewarganegaraan agar bisa dipanggil ke timnas. Proses birokrasi ini rupanya tidak instan dan memakan waktu hingga lebih dari tiga tahun lamanya.
Namun, kesabaran itu berbuah manis saat status kewarganegaraan Vietnam resmi di tangannya dan panggilan timnas pun datang.
"Saya menunggu sangat lama untuk momen itu, tapi mungkin justru itulah yang membuatnya terasa sangat berarti ketika akhirnya terwujud. Beberapa mimpi memang butuh waktu lebih lama dari yang lain. Mimpi saya memakan waktu lebih dari tiga tahun di Vietnam, tapi saya tidak pernah berhenti percaya," ucap dia.
Baca juga:
Takdir Unik Bertemu Legenda Piala Dunia 2002
Ada satu cerita unik dan terasa seperti takdir di balik perjalanan Patrik. Saat masih kecil, ia menyaksikan ajang Piala Dunia FIFA 2002 Korea/Jepang lewat layar kaca. Waktu itu, ia sangat mengagumi Buffon dan juga melihat aksi heroik kiper Korea Selatan, Lee Woonjae, yang sukses menyingkirkan Italia.
Siapa sangka, hampir 25 tahun setelah momen epik di layar kaca tersebut, garis nasib justru mempertemukan Patrik Le Giang dengan Lee Woonjae di dalam satu tim yang sama. Sebuah perjalanan karier yang membuktikan bahwa kerja keras dan mimpi masa kecil bisa membawamu ke tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya!