STOP-MOTION adalah teknik animasi untuk membuat objek agar terlihat bergerak sendiri. Teknik ini pernah diaplikasikan pada beberapa film kartun seperti ‘Shaun the Sheep’, dan yang terbaru adalah ‘Early Man’.
Animator Nick Park mengusung konsep stop-motion pada ‘Early Man’ sama seperti ketika ia pertama kali berkecimpung di dunia animasi. “Teknik dasarnya tidak benar-benar berubah, masih mirip seperti dulu,” terang Park.
Teknik ini dikenal pula dengan istilah animasi stop-frame atau claymation. Proses kreatifnya melibatkan boneka dari bahan clay. Boneka-boneka ini digerakkan secara perlahan pada setiap frame atau bingkai.
Ketika gambar diputar kembali, karakter yang tadi digerakkan kelihatan seperti hidup dan bergerak. Prosesnya terjadi secara lambat. Tetapi hasilnya, seperti yang Anda lihat pada film ‘Early Man’, sungguh terlihat natural dan spontan.
Proses pembuatan boneka dan latar untuk ‘Early Man’ ini menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Mulai dari gunung berapi hingga arena sepakbola. Namun rumah produksi Aardman Animations memilih menyederhanakannya.
Teknologi memegang peran penting pada penyederhanaan proses stop-motion. “Kami selalu terbuka untuk menggunakan teknologi,” terang Park.
Ia juga menerapkan efek digital untuk menggantikan gerakan yang tidak dapat dilakukan boneka atau clay, seperti asap, ledakan dan air. Untuk film ini, dia menggunakan 30 ribu boneka.
Sebelum ‘Early Man’, Aardman juga telah membuat film animasi lain seperti ‘Arthur Christmas’ dan ‘Flushed Away’. Tetapi karakter utama ‘Early Man’ tetap digerakkan dengan teknik lama.
Proses stop-motion untuk film ini melalui banyak uji coba. Tidak heran kalau hasilnya terlihat bagus. Penasaran kan ingin melihat sendiri teknik stop-motion pada ‘Early Man’? Kalau begitu, jangan lupa tonton filmnya ya. (*)
Baca juga artikel ini.

