SEMUA orang pasti pernah mengalami serangan kecemasan sesekali, bisa saja timbul karena beban pekerjaan, hubungan percintaan, atau urusan finansial. Bahkan seorang ahli kejiwaan pun dapat mengalaminya.
"Profesional di bidang kesehatan mental juga seorang manusia biasa. Jadi mereka tidak kebal terhadap serangan kecemasan, seperti panik. Jika berlangsung terus-menerus, tentunya mereka juga membutuhkan bantuan tenaga ahli lainnya," ujar David L Dunner, Direktur Pusat Kecemasan dan Depresi di Pulau Mercer, Washington.
Lalu apakah yang dilakukan para ahli kesehatan mental jika rasa cemas menyerang mereka?
Berikut sembilan cara untuk menghadapi kecemasan yang mereka bagi, sehingga Anda pun dapat mempraktikkannya.
Terima kenyataan bahwa kecemasan itu normal
Saat Anda merasa cemas, berkata kepada diri sendiri, 'aku tak seharusnya merasa cemas', atau 'ini benar-benar hal bodoh untuk dikhawatirkan', tidak akan membuat Anda merasa lebih baik. Demikian disampaikan Steven D Tsao, co-founder Pusat Kecemasan & Terapi Perilaku di Bryn Mawr, Pennsylvania.
"Mungkin terlihat bodoh, tapi menerima bahwa kecemasan merupakan hal yang normal membantuku terhindar dari pikiran yang tak berguna," ujarnya.
Putuskan koneksi sebelum tidur
Terkoneksi secara konstan, entah lewat e-mail ataupun sosial media, dapat memicu kegelisahan, terutama ketika Anda hendak tidur di malam hari. Larry D Rosen, PhD, profesor emeritus di departemen psikologi di California State University, Dominguez Hills, dan penulis buku The Distracted Mind: Ancient Brains in a High-Tech World menyarankan untuk mematikan gadget sejam sebelum waktu tidur. Selain itu, usahakan membaca buku, alih-alih buku elektronik agar terhindar dari pendaran cahaya biru gawai Anda.
Tempatkan kegelisahan dalam sebuah perspektif
Franklin Schneier, MD, Co-director Anxiety Disorders Clinic pada New York State Psychiatric Institute mengatakan bahwa kegelisahan merupakan sebuah sinyal yang memberi tahu Anda bahwa ada hal yang Anda takuti tengah mengintai. Untuk itu, ia menyarankan untuk memperkecil ketakutan sespesifik mungkin. Dengan begitu, Anda dapat menempatkan kegelisahan Anda dalam sebuah perspektif yang lebih luas.
Pertahankan kebiasaan hidup sehat
Tsao mengungkapkan melewatkan kebiasaan baik, seperti makan makanan sehat dan berolahraga, juga dapat memicu kegelisahan. Oleh karena itu, ia menyarankan Anda untuk meninjua ulang pola hidup Anda. Apakah tidur Anda cukup, makanan Anda sehat, atau apakah olahraga Anda cukup.
Buatlah alasan untuk keluar dari kegelisahan
Akan amat mudah terjebak dalam kegelisahan saat kita yakin bahwa orang lain merasa kecewa atau marah kepada kita. Namun, cobalah untuk berpikir dalam perspektif yang berbeda, pertimbangkan alternatif lain. Hal itu akan membantu Anda mengurangi kegelisahan.
Bernyanyi untuk diri sendiri
Rosen menyebut, jika ia terjaga karena sebuah pemikiran membuatnya gelisah, ia punya trik tersendiri: bernyanyi!
Menyanyi dalam grup, seperti dalam paduan suara, telah terbukti meningkatkan kimia yang membuat otak merasa nyaman sehingga menurunkan tingkat stres dan kegelisahan.
Temukan strategi menghadapi kegelisahan
Meskipun amat ingin terbebas dari kegelisahan, Anda wajib tahu bahwa kegelisahan dapat muncul kembali kapan saja. tujuan yang harus Anda capai bukanlah mengeradikasi kegelisahan, melainkan belajar mengahadapinya. Tsao pun memberikan contoh strategi yang dapat Anda terapkan dalam menghadapinya, semisal berjalan bersama hewan peliharaan, membatasi diri dari pekerjaan, e-mail, maupun media sosial, hingga berbicara dari hati ke hati bersama kolega kerja atau kekasih.
Tarik napas panjang
Cara satu ini memang banyak disarankan. Ya, karena memang selalu berhasil! Schneier mengatakan bahwa bernapas merupakan salah satu bentuk meditasi. Tak perlu ahli bermeditasi untuk mendapat manfaat dari bernapas secara teratur. Duduklah tenang, fokus pada alur napas Anda. Jika pikiran Anda mulai berkelana, ingatkan diri Anda bahwa Anda tengah berfokus pada pernapasan Anda.
Pergi ke sesi terapi
Jika semua trik itu tidak berhasil, jangan tunggu untuk menemui terapis. Bahkan para ahli kejiwaan pun sesekali butuh terapi.(*)