SEBERAPA banyak yang Anda tahu tentang autisme?
Data yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention menyebut 1% dari seluruh populasi dunia hidup dengan autisme. Di AS saja, 1 dari 68 kelahiran merupakan bayi dengan autisme. Bahkan, beberapa tahun belakangan, makin banyak orang yang didiagnosis dengan autisme.
Meskipun makin banyak yang didiagnosis dengan autisme, kesadaran publik terhadap gangguan perkembangan ini masih minim. Salah pengertian tentang autisme masih jamak terjadi.
Agar pengetahuan dan kesadaran Anda tentang autisme bertambah, berikut 8 fakta tentang autisme.
1. Diagnosis di usia amat dini
Tak ada tes medis ataupun pemeriksaan darah untuk menegakkan diagnosis autisme. Para dokter akan melakukan serangkaian tes kelakuan pada anak-anak lalu mengevaluasi hasilnya secara komprehensif.
Evaluasi itu meliputi pendengaran, pengelihatan, dan tes neurologis. Setelah itu, dokter akan merekomendasikan konsultasi lanjutan ke dokter spesialis, semisal dokter spesialis tumbuh kembang anak.
Seorang anak bahkan bisa didiagnosis dengan autisme sejak masih berusia 18 bulan. Meskipun demikian, umumnya diagnosis autisme baru terjadi di usia 24 bulan atau lebih. Di usia itulah diagnosis dianggap tepercaya.
"Saat usia di bawah itu, anak autistik memang memperlihatkan kekurangan dalam komunikasi sosial. Namun, itu sesuai dengan umur mereka," jelas Kepala Staf Sains pada Autism Science Foundation di New York Alycia Halladay, PhD.
2. Gejala yang bervariasi
Autisme ditunjukkan lewat gejala yang berbeda pada setiap individu. Pada sebagian orang, gejala akan tampak ringan, tapi bisa amat kentara di individu lainnya.
Secara umum, gejala autisme melibatkan kemampuan berkomunikasi dan perilaku sosial. Amat introvert, menolak bermain dengan anak lain seusia, atau tak melakukan kontak mata merupakan gejala-gejala yang mungkin terlihat pada anak dengan autistik.
Selin itu, anak autistik juga menunjukkan kecenderungan untuk berperilaku mengulang-ulang suatu aktivitas, seperti bertepuk tangan berulang-ulang. Mereka juga kerap terobsesi dengan mainan atau benda tertentu.
Bagi Anda para orangtua, tanda awas terhadap autisme bisa dilihat jika anak amat sensitif terhadap suara, sering mengalami tantrum yang parah, tak merespons jika diajak bicara, juga tak bermain peran saat mulai menginjak usia 18 bulan.
3. Kejadian makin meningkat
Para ahli masih memperdebatkan apakah prevelansi autisme meningkat ataukah jumlah anak dengan autisme meningkat karena mulai tumbuhnya kesdaran untuk melakukan pemeriksaan dan penegakan diagnosis.
Tidak dimungkiri kesadaran umum para orangtua dan pekerja day-care hingga dokter anak turut andil dalam penambahan jumlah anak yang terdiagnosis dengan autisme.
Apa pun itu, para ahli masih butuh menjalankan riset untuk memastikan alasan di balik pertumbuhan jumlah anak dengan autisme.
4. Anak lelaki lebih mungkin didiagnosis dengan autisme
Gangguan perkembangan autisme 4,5 kali lebih umum ditemukan pada anak lelaki ketimbang perempuan. Meskipun demikian, belakangan diketahui bahwa autisme pada anak perempuan makin banyak ditemui.
5. Autisme bisa saja berkembang sebelum anak lahir
Hingga kini, ilmuwan belum mengetahui pasti penyebab autisme. Kebanyakan para ahli sepakat bahwa autisme merupakan akibat dari kelainan genetik dan faktor negatif lingkungan. Meskipun demikian, masih banyak teka-teki yang belum terjawab.
Bukti terbaru menyebutkan bahwa autisme mungkin berkembang sebelum anak dilahirkan. Riset tampaknya mengisyaratkan bahwa obat-obatan tertentu yang dimunim ibu selama kehamilan bisa meningkatkan risiko autisme pada anak.
Ibu yang melahirkan di usia tua lebih berisiko melahirkan anak autistik. Selain itu, seseorang lebih mungkin didiagnosis autisme jika ia punya saudara yang autistik.
6. Anak autistik cenderung punya masalah kesehatan
Mereka yang hidup dengan autisme punya risiko lebih besar mengidap penyakit atau kelainan kesehatan. Sekitar 39% anak autistik mungkin mengalami epilepsy saat dewasa. Selain itu, anak autistik rentan mengalami kecemasan, ADHD, depresi, gangguan tidur, alergi, dan masalah di perut.
7. Vaksin tak sebabkan autisme
Meskipun banyak pertentangan mengenai kemungkinan vaksinasi saat masa kecil bisa menimbulkan autisme, studi sudah menegaskan bahwa hal itu hanyalah mitos.
Teori vaksin sebagai penyebab autisme muncul saat sebuah studi kecil pada 1998 mengklaim bahwa ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Studi tersebut kemudian dinyatakan tak memadai.
Studi lain kemudian mengidentifikasi bahwa vaksin aman buat anak-anak dan tak ada hubungan antara vaksin masa kecil dan autisme.
8. Penanganan dini jadi kunci
Tak ada obat untuk autisme, tapi penanganan tepat di usia dini akan membantu anak autistik berkembang. Terapi okupansi, wicara, dan fisik ialah yang jamak digunakan dalam penanganan anak-anak autistik.
Lewat serangkaian terapi tersebut, mereka akan diajari untuk melakukan kontak mata sekaligus interaksi sosial.
Beberapa obat juga tersedia untuk menangani gejala ikutan autisme, seperti antidepresan, obat antikejang, atau obat-obatan yang membantu anak tetap fokus.
Mengenal lebih jauh autisme akan menumbuhkan kesadaran bersama akan gangguan perkembangan yang satu ini. Pada akhirnya, mereka yang hidup dengan autisme tidak lagi mendapat stigma atau bahkan disalahartikan.(dwi)