Nutrisi

Kedelai Bisa Jadi Musuh untuk Tubuh

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 11 November 2019
Kedelai Bisa Jadi Musuh untuk Tubuh

Dalam kondisi tertentu, kedelai bisa berefek buruk pada tubuh. (foto: pixabay/jing)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

OLAHAN kedelai begitu lekat dengan orang Indonesia. Dari sari kedelai, tahu, tempe, hingga kecap, semua berbahan kedelai. Selain memang enak, kedelai mengandung nutrisi yang baik untuk tubuh. Sebagai contoh, setengah cangkir tahu mengandung 253 miligram kalsium, 152 miligram fosfor dan 46 miligram magnesium.

Beragam penelitian mendukung manfaat kacang-kacangan ini bagi kesehatan. Namun, seperti dilansir Antara, sebuah studi penelitian membuktikan konsumsi kedelai dapat menurunkan produksi hormon tiroid. Di sisi lain, analisis 14 percobaan dari Loma Linda University mengungkapkan konsumsi kedelai dalam jumlah sedang tidak membahayakan orang dengan tiroid.

BACA JUGA: Rajin Sikat Gigi Tetap Bau Mulu? Waspadai Penyakit Berikut

Akan tetapi, bagi mereka yang tidak memiliki cukup yodium, kedelai dapat menyebabkan beberapa konsekuensi negatif jika dikonsumsi secara berlebihan. Isoflavon yang ditemukan dalam tanaman kedelai memiliki fungsi yang mirip dengan estrogen sehingga berisiko orang-orang yang ingin mencegah kanker payudara dan ovarium. Hal itu karena kedua jenis kanker tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon.

kedelai
Pria juga perlu mewaspadai konsumsi kedelai. (foto: pixabay/bigfatcat)

Karena aktivitas fitoestrogen, pria juga perlu mewaspadai dengan gangguan hormon yang dapat berakhir pada kanker prostat. Namun, ada penelitian yang mengklaim sebaliknya dan menunjukkan kedelai mengurangi risiko kanker prostat.

Sebagai kesimpulan, untuk menghindari efek samping, Medical Daily menyarankan cara terbaik menikmati kedelai ialah dengan memilih varietas yang diproses, nonfermentasi minimal, dan yang belum direkayasa secara genetika untuk dikonsumsi secukupnya.(*)

BACA JUGA: Perkara Mesin Capit Kepiting Hidup, Restoran Seafood Terkenal Dihujat Warganet

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan