Kecanduan Belanja Termasuk Gangguan Mental?

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Kamis, 09 Agustus 2018
Kecanduan Belanja Termasuk Gangguan Mental?

Ilustrasi (Foto: pixabay/stocksnap)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BEBERAPA orang menganggap belanja dengan pengeluaran yang tak terkendali dapat dikategorikan sekadar kurangnya pengendalian diri.

Namuni, banyak orang yang terkadang mengaku dirinya sebagai pecandu belanja. Ternyata sejumlah ahli mengatakan kecanduan belanja disebut juga 'oniomania' atau 'gangguan pembelian kompusif' yang dapat dikategorikan sebagai gangguan mental

(Foto: pixabay/stocksnap)

Penjelasan tersebut didapat dari penelitian terbaru yang dilakukan Hannover Medical School, yang mengungkapkan jika 7% orang dewasa menunjukan beberapa bentuk masalah belanja kompusif, sementara di Amerika dan Eropa sendiri meningkat dalam dua dekade terakhir ini.

Seperti yang dilansir Independet, Profesor Astrid Mueller, seorang psikolog klinis dengan minat khusus dalam kecanduan di Hannover Medical School, Jerman, mengungkap jika ditubuhkan pemahaman serta pengakuan lebih soal berbahayanya kondisi tersebut.

"Sudah waktunya mengenali gangguan belanja kompulsif sebagai kondisi kesehatan jiwa yang terpisah, dimana akan membantu kami mengembangkan metode perawatan serta diagnosis yang lebih baik" ucap Mueller.

(Foto: pixabay/gonghuimin468)

Disi lain, menurut Profesor Mark Griffiths yang merupakan profesor kecanduan perilaku di Nottingham Tred University, sangat setuju dengan pendapat tersebut. Dirinya juga menambahkan jika ada sejumlah orang yang kerap belanja kompulsif atau yang sering disebut kecanduan belanja.

"Meski ada bukti dari banyak negara jika gangguan itu ada, kualitas penelitian sangat bervariasi, dan juga penelitian klinis yang lebih berkualitas tinggi perlu untuk dilakukan, sebelum akhirnya dapat diberikan diagnosis resmi sebagai gangguan mental" Tutur Mark Griffiths.

Lebih lanjut, Griffiths menambahkan, jika belanja secara kompulsif telah diakui dan diterima sebagai sebuah gangguan mental oleh sebagian besar otoritas medis serta psikiatrik uatama. Nah, ini berati akan membuka kemungkinan pembelian kompulsif diakui sebagai gangguan jiwa. (ryn)

Baca juga yuk artikel menarik yang lainnya WOW! Inovasi Bir Terbaru Dibuat dari Asam Laktat Miss V

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me
Bagikan