Kalah dari Pesaing Daring, Toys 'R' Us Ajukan Permohonan Bangkrut

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 19 September 2017
Kalah dari Pesaing Daring, Toys 'R' Us Ajukan Permohonan Bangkrut

Ilustrasi. (Foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

RAKSASA toko mainan Toy 'R' Us mengajukan permohonan bangkrut sebagai peritel. Timbunan utang sejak satu dekade lalu serta kalah saing dari kompetitor daring yang menawarkan harga lebih murah dengan kenyamanan yang lebih menjadi faktor kebangkrutan itu.

Dalam dokumen Chapter 11--dokumen pernyataan kebangrutan--yang dikeluarkan Senin (18/9) di Pengadilan Kebangkrut AS di Richmond, Virginia, perusahaan itu mencatatkan lebih dari US$1 miliar masing-masing untuk utang dan aset. Sebelum mengajukan permohonan kebangkrutan, perusahaan itu mendapat pinjaman senilai lebih dari US$3 juta dari sebuah sindikat bank yang dipimpin JPMorgan Chase & Co. Dalam pernyataan yang dikeluarkan perusahaan, pembiayaan itu digunakan untuk mendanai operasional sementara perusahaan melakukan restrukturisasi. Pendanaan itu sudah mendapat persetujuan pengadilan.

Meskipun mengajukan permohonan kebangkrutan, perusahaan tidak mengumumkan rencana menutup toko-toko mereka dan mengatakan akan mempertahankan operasional toko mereka di seluruh dunia.

"Seperti peritel lainnya, keputusan untuk menutup toko--ataupun membukanya--akan dibuat berdasar apa yang terbaik untuk bisnis," ujar Michael Freitag, juru bicara Toys 'R' Us dalam sebuah surat elektronik.

Pengajuan kebangrutan oleh Toy 'R' Us ini menjadi terjangan terbaru bagi industri ritel yang mencoba bertahan dari penutupan toko, tingkat kunjungan mal yang sepi, dan yang terberat ialah ancaman dari Amazon.com Inc. Lebih dari selusin peritel besar telah mengajukan jaminan kredit tahun ini, di antaranya Payless Inc, Gymboree Corp, dan Perfumania Holdings Inc. Kesemua peritel itu menggunakan dokumen Chapter 11 untuk menutup toko yang tak menghasilkan dan memperluas operasional daring.

Sementara itu, sekitar 255 toko berlisensi dan kerja sama joint venture perusahaan ini di Asia, yang merupakan entitas terpisah, tidak termasuk dalam dokumen permohon kebangkrutan itu.

Seperti dilansir Bloomberg, jumlah utang Toys 'R' Us mencapai US$7,5 miliar yang didapat dari usaha perusahaan itu untuk go public pada 2005. Namun sayang, sejak saat itu, perusahaan yang berbasis di New Jersey ini tidak berhasil keluar dari belitan utang.

Raksasa peritel mainan

Chief Executive Officer David Brandon mengambil alih Toys 'R' Us pada 2015. Brandon ingin membuat berbelanja di toko itu menjadi lebih menyenangkan. Tahun lalu, Brandon bahkan membuat citra anak-anak yang menarik orangtua mereka untuk berbelanja di Toys 'R' Us.

Peritel mainan ini juga memperkenalkan fitur Hot Toy Finder yang menginfokan kepada konsumen lokasi toko terdekat Toys 'R' Us yang menjual item yang masuk daftar mainan terpanas. Selain itu, jaringan toko mainan yang sudah menyusun daftar tersebut selama 20 tahun itu juga menawarkan pencocokan harga dalam fitur itu.

Meskipun membuat sejumlah kemajuan dalam mengurangi kewajiban utang, Brandon tidak mampu membangkitkan laba perusahaan. Dilaporkan, perusahaan itu mengalami kerugian bersih senilai US$164 juta di akhir kuartal pada 29 April. Bahkan, perusahaan itu tidak meraih keuntungan tahunan sejak 2013.

"Bersama dengan investor kami, tujuan kami ialah bekerja bersama kreditor untuk merestrukturisasi utang jangka panjang kami senilai US$5 miliar," ujar Brandon dalam pernyataan perusahaan.

Toys 'R' Us menjual mainan dan merchandise bayi di sekitar 1.600 toko mereka di seluruh dunia, termasuk laman Toysrus.com dan Babiesrus.com.


Bermula dari Children's Bargain Town

Charles Lazarus membuka Children's Bargain Town, sebuah toko furnitur bayi, di Washington pada 1948. Dua tahun kemudian, Lazarus menambahkan mainan dan membuka gerai pertama Toys 'R' Us. Konsep toko mainan itu diambil dari supermarket self-service di 1957. Lazarus mundur dari posisi CEO Toys 'R' Us pada 1994. Dua tahun kemudian, gerai pertama Babies 'R' Us dibuka.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan