MerahPutih Nasional - Kaesang Pangarep menceritakan bagaimana pertama kali sekolah di Singapore. Di blog pribadinya, ia mengaku kalau sang kakak Gibran yang mengantarnya sampai Singapore. Ia juga mengukapkan alasan utama memilih sekolah disana. “Gue dulu sebelum berangkat ke Singapore seneng banget, karena gue bakalan hidup sendiri tanpa orang tua gue. Gak bakalan ada yang suruh gue untuk belajar maupun tidur lagi,” tulis Kaesang.
Ketika sampainya disana, Kaesang merasa hanya dia yang kulitnya paling hitam, karena di Singapore, orang yang berada disekelilingnya berkulit putih dan bersih. “Gue ngerasa kaya arang yang jalan-jalan di tengah gerombolan kapas putih,” tulisnya di blog.
selanjutnya kedua kakak beradik ini langsung menuju hotel tempat mereka menginap dengan menggunakan taxi, karena menurut Gibran, mengendarai MRT sama saja membuang waktu. Gibran pun berpesan kepadanya kalau nama Hotel nya “Hotel Supri”, dengan sedikit ragu-ragu Kaesang langsung mengatakan kepada supir taxi tujuannya ke hotel Supri. Supir taxi langsung bingung, karena di Singapore tidak ada yang namanya Hotel Supri. Tiba-tiba Gibran dengan santai menjawab “Maaf bang, ini anak agak “sakit”. Kita ke Sapphire ya bang”. Ternyata Kaesang telah dikerjai oleh kakaknya.
Kemudian, dia bercerita bagaimana keadaan asrama yang akan ditempatinya. Kaesang sempat kaget, karena ia satu asrama dengan warga negara China. Kendalanya ada pada bahasa yang dikuasainya, bahasa inggris pas-pasan, keahliannya hanya bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan yang lain.
Tak lama, kakaknya hari itu telah kembali ke Solo. Kaesang merasa sangat bebas, tak ada lagi yang mengaturnya. Tapi selang beberapa menit, ia merasa kangen dengan Ibunya yang biasa mengatur dan melarang kegiatannya. Untuk menghilangkan rasa kangennya itu, ia berinisiatif untuk pergi ke foodcourt. Disana, ia tertarik dengan sepotong daging dengan bentuk kotak. Ketika ia makan, ia merasa daging itu adalah daging terenak yang pernah ia nikmati. Sampai-sampai ia memesan satu yang rencananya untuk dibawa ke asrama. Saking enak menikmati daging tersebut, ia sampai lupa bertanya itu daging apa. Ia mencoba bertanya kepada penjual daging, penjual itu menjawab bahwa daging tersebut merupakan daging babi. “Asu dah, pertama kali di Singapore gini udah bikin dosa. Udah dosa gue banyak banget lagi di Indonesia, ini malah ditambah lagi gara-gara makan daging babi. Tapi enak banget sih sebenernya dangingnya, bikin ngangenin.”
Singkat cerita, besok adalah hari pertamanya sekolah. Kaesang mulai bingung, karena dihari pertamanya sekoalah, ia belum mendapatkan seragam. Ia pun berinisiatif untuk menelfon bapaknya. “Pak, aku besok pake baju apa ya untuk sekolah besok? Aku belum punya seragamnya”, kata gue. “Pake batik wae, casual tapi smart”, kata bokap gue. “Ide yang cukup bagus untuk kesekolah pake batik.” Tulis Kaesang.
Di sekolah, Kaesang terlihat seperti salah kostum, setiap orang yang lewat dihadapannya, mereka mengatakan “are you Indonesian?”. Setelah acara sekolah selesai, Kaesang langsung membeli seragam sekolah dan memutuskan untuk menggunakan nomor 13. Dengan nada yang sedikit keras, ibu-ibu yang melayaninya menjawab, nomor 15 saja lebih pas. “Double tai lah itu orang yang jaga toko”, tulis Kaesang.
Dihari keduanya, ia semakin seperti orang bodoh, tidak mengerti bahasa yang orang-orang katakan, andalanya hanya kata “yes”. Itulah cerita singkat ketika pertama kali ia sekolah di Singapore.
Foto: Instagram @kaesangp