MALAM ini, Sabtu (11/11) menjadi malam yang paling ditunggu oleh para sineas film Indonesia. Pasalnya Kota Manado tengah mempersiapkan ajang penganugerahan tertinggi untuk insan perfilman Indonesia yakni Festival Film Indonesia (FFI) 2017.
Bicara soal sistem yang digunakan dalam proses penilaian film dalam Festival Film Indonesia, Ketua Dewan Juri FFI 2017, Riri Riza menjelaskan kalau penjurian dilakukan dengan cukup canggih dan terawasi.
"Juri bekerja menilai secara daring maupunluar jaringan. Ini sistemnya sudah canggih dan data yang masuk semua sangat bisa diawasi," kata Sutradara Film Kuldesak Riri Riza melalui siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu (11/11).
"Penilaian juri juga dilakukan secara sendiri-sendiri. Tidak ada diskusi di antara mereka. Jadi unsur objektivitas dan subjektivitas masing-masing juri terjaga," lanjutnya.
Selain itu, Riri juga menambahkan sebanyak 80 persen juri FFI 2017 dipilih berdasarkan rekomendasi dari pihak asosiasi. Sedangkan sisanya adalah juri mandiri yang terdiri dari akademisi, kritikus, dan orang-orang yang berkecimpung di media massa dan perfilman.
"Kita menginginkan juri yang direkomendasikan adalah mereka yang pernah dinominasikan di FFI. Mereka adalah orang-orang yang profesional, yang sudah diakui prestasinya. Syukur-syukur pernah menerima Piala Citra," kata dia.
Sebanyak 21 film masuk dalam 22 kategori nominasi FFI yang telah diumumkan pada Malam Nominasi FFI 2017, Kamis (5/10) yang lalu. Proses penjurian kemudian dilakukan dengan melibatkan sebanyak 75 juri. Penjurian dilakukan selama dua minggu, mulai 10 hingga 24 Oktober 2017. (*)

