Jejak Anggur Tertua Ditemukan di Italia

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 31 Agustus 2017
Jejak Anggur Tertua Ditemukan di Italia

Wine (Foto:winespectator)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Peneliti menemukan bahwa anggur tertua di dunia amat mungkin berasal dari Italia. Hal itu disimpulkan setelah jejak anggur fermentasi berusia 6.000 tahun ditemukan di lepas pantai barat Sisilia.

Sebuah tim peneliti mempelajari residu kendi terakota yang ditemukan di sebuah gua di Gunung Kronio, dekat Agrigento, Italia. Situs itu dipercaya sebagai tempat pelaksanaan korban manusia kepada dewa. Demikian dijelaskan Enrico Greco, seorang ahli kimia dari Universitas Catania, kepada AFP.

"Peninggalan guci di dalam gua membuat benda ini tidak terkubur dan memungkinkan isi di dalamnya terawetkan, meskipun telah mengeras selama berabad-abad," kata Greco.

Beberapa teknik analisis, termasuk resonansi magnetis nuklir, mengungkapkan adanya asam tartarat, asam utama dalam buah anggur. "Kami mengesampingkan residu lemak dari daging atau minyak, dan karena tidak ada jejak biji anggur atau kulit, kami menyimpulkan bahwa substansi itu dari anggur yang difermentasi," jelasnya.

Para arkeolog kemudian membuat penanggalan untuk residu tersebut dengan membandingkan tembikar dengan vas lain dari situs terdekat. Temuan ini penting karena menunjukkan anggur yang difermentasi telah ada pada milenium keempat SM, sekitar 3.000 tahun lebih awal dari catatan pertama perkebunan anggur di Italia.

"Ketika kami menerbitkan artikel ini, kami tidak membayangkan itu merupakan anggur tertua yang pernah ditemukan, tetapi informasi yang ada membuat kita percaya ini mungkin terjadi," kata Greco.

Greco ialah bagian dari kelompok peneliti internasional yang dipimpin Davide Tanasi, arkeolog dari Universitas South Florida, yang membuat penemuan yang diterbitkan dalam Journal Microchemical.

Apakah itu memang merupakan anggur tertua di dunia, para ilmuwan tetap berhati-hati.

"Ada penemuan dari periode yang sama di Armenia, tetapi tampaknya itu merupakan minuman yang dihasilkan dari fermentasi buah delima, bukan anggur," kata Greco. Selain itu, ia menambahkan, ada juga jejak fermentasi beras yang lebih tua di Tiongkok.(*)

Sumber: AFP

Baca juga Wine Tasting Clique Edukasikan Budaya Minum Wine

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan