MerahPutih.com - Investasi di sektor nikel terus meningkat di Indonesia. Kondisi ini membuat pemerintah optimistis Indonesia mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada masa depan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, peningkatan investasi tersebut didorong oleh upaya pemerintah membangun ekosistem industri yang semakin lengkap, mulai dari bahan baku hingga komponen baterai.
Pengembangan ini terutama berlangsung di dua kawasan industri, yakni PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih USD 11 miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai USD 28 miliar atau 10 persen dari total ekspor Indonesia.
ujar Rosan di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10)
Kapasitas Listrik IWIP dan IMIP Lampaui Singapura
Menurut Rosan, besarnya aktivitas industri di kedua kawasan tersebut juga terlihat dari kapasitas listrik yang telah terpasang maupun yang masih dalam tahap pembangunan.
IWIP memiliki kapasitas listrik terpasang lebih dari 7,1 gigawatt (GW), sedangkan kawasan Morowali mencapai 8,8 GW.
Jadi ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura yang (sebesar) 13,1 gigawatt. Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya.
jelas Rosan
Rosan menilai, besarnya kapasitas industri dan investasi yang masuk menunjukkan bahwa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia mulai terbentuk secara menyeluruh. Kondisi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.
"Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik," tegasnya.
Baca juga:
Akhirnya! Indonesia Luncurkan Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik
Hilirisasi Nikel Didorong hingga Daur Ulang Baterai
Ia menambahkan, hilirisasi nikel tidak hanya berfokus pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga diarahkan untuk mendorong industrialisasi dan membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi.
Pengembangan di Morowali, misalnya, disebut akan memperluas ekosistem baterai kendaraan listrik hingga mencakup proses daur ulang baterai.
"Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," kata Rosan.
Baca juga:
Sementara itu, investasi baru yang masuk ke proyek strategis di kawasan IWIP mencapai USD 10,2 miliar atau sekitar Rp 180 triliun. Investasi tersebut berasal dari berbagai negara dan melibatkan sejumlah perusahaan global.
"Dari 10 itu Bapak Presiden, 4 proyek baru selesai dan memiliki seremoni komersial dan juga ekspor senilai USD 3,4 miliar yang sudah selesai atau kurang lebih Rp60 triliun, dan 6 proyek lainnya senilai USD 6,8 miliar melaksanakan seremoni peletakan batu pertama," pungkasnya. (Asp).