KETIKA anak-anak, Anda tentu sering dinasihati orangtua untuk makan dengan perlahan. Saat itu, Anda mungkin langsung menurut tanpa tahu alasan di balik anjuran itu. Ternyata anjuran itu amat baik lo untuk kesehatan.
Mengonsumsi makanan menimbulkan perasaan kenyang. Hal itu merupakan respons yang muncul karena lambung telah terisi penuh dengan makanan.
Secara khusus, saat Anda makan, sinyal hormonal dilepaskan sebagai respons masuknya makanan ke usus kecil. Sinyal hormonal tersebut dihasilkan hormon cholecystokinin (CCK) yang dikeluarkan usus sebagai respons terhadap makanan yang Anda konsumsi dan hormon leptin yang dapat membuat Anda merasakan kenyang.
Sebuah studi menemukan bahwa hormon leptin dapat menguatkan sinyal hormon CCK untuk meningkatkan perasaan kenyang. Studi lainnya menemukan bahwa hormon leptin dapat berinteraksi dengan dopamin neurotransmitter di otak untuk menimbulkan perasaan senang setelah makan.
Studi yang dilakukan di Jepang juga telah menemukan adanya hubungan positif yang kuat antara kecepatan makan dan indeks masa tubuh dan obesitas. Studi lain yang diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietics menemukan bahwa meningkatkan jumlah kunyahan sebelum menelan makanan dapat mengurangi konsumsi makanan yang berlebih pada orang dewasa. Bahkan, studi tersebut juga menemukan bahwa orang dengan berat badan normal cenderung mengunyah makanan lebih lambat jika dibandingkan dengan orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.
Makan dengan perlahan memberikan beberapa keuntungan. Anda akan mengkonsumsi lebih sedikit kalori ketika makan dengan perlahan. Akibatnya, makan dengan perlahan dapat mengendalikan berat badan yang dapat mencegah terjadinya obesitas.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sering kali Anda dianjurkan untuk makan dengan perlahan. Makan terlalu cepat dapat membuat tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk bekerja secara optimal, terutama dalam memberikan respons perasaan senang dan kenyang setelah Anda makan.(*)