Ini yang Terjadi di Otak ketika Melihat Orang Menguap

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 05 September 2017
Ini yang Terjadi di Otak ketika Melihat Orang Menguap

Ilustrasi (Foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Menguap itu menular. Peneliti pun telah melihat apa yang terjadi di otak kita sehingga memicu respons itu.

Sebuah tim di Universitas Nottingham menemukan bahwa reaksi itu terpicu bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi motorik.Menguap yang menular merupakan bentuk umum dari echophenomena, yaitu imitasi otomatis kata-kata atau tindakan orang lain. Echophenomena juga terlihat pada sindrom tourette (latah), serta dalam kondisi lain, termasuk epilepsi dan autisme.

Untuk menguji apa yang terjadi di otak selama fenomena tersebut, para ilmuwan memantau reaksi 36 relawan saat mereka melihat orang lain menguap.

Kepekaan terhadap rangsangan

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology itu, beberapa relawan dipersilakan untuk menguap, sedangkan yang lain diharuskan untuk menahan dorongan itu.

Dorongan untuk menguap ternyata bermuara pada bagaimana motorik korteks primer setiap orang bekerja, yaitu ‘kepekaan terhadap rangsangan’. Dengan menggunakan transcranial magnetic stimulation (TMS) eksternal, kepekaan terhadap rangsangan amat mungkin untuk meningkat, sehingga orang mudah tertular saat melihat orang lain menguap.

Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif yang bekerja pada studi itu, mengatakan temuan tersebut bisa memiliki kegunaan yang lebih luas. "Dalam tourette, jika kita bisa mengurangi rangsangan, kita mungkin mengurangi kejadian, dan itulah apa yang kita kerjakan."

Profesor Stephen Jackson, yang juga bekerja pada penelitian, menambahkan, "Jika kita dapat memahami bagaimana mengubah kepekaan korteks terhadap rangsangan dapat menimbulkan gangguan saraf, kita berpotensi dapat memulihkan gangguan tersebut. Kami mencari potensi pemullihan nonobat, perawatan pribadi, dengan menggunakan TMS yang mungkin efektif dalam memodulasi ketidakseimbangan dalam jaringan otak."

Dr Andrew Gallup, psikolog di SUNY Polytechnic Institute, yang telah melakukan penelitian hubungan antara empati dan menguap, mengatakan menggunakan TMS merupakan ‘pendekatan baru' untuk mempelajari alasan menguap menular. "Masih relatif sedikit yang kami ketahui tentang mengapa kita menguap. Berbagai penelitian telah mengaitkan hubungan antara menguap menular dan empati, tapi penelitian yang mendukung hubungan ini tidak konsisten dan kacau.”

Ia kemudian menyimpulkan bahwa temuan ini membuktikan bahwa menguap yang menular tidak berhubungan dengan rasa empati. (*)

Baca juga Coba Tengok, Orang Sukses Pasti Minum Kopi

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan