MerahPutih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi, dibuka melemah 223,23 poin poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.
Sebelumnya, di tanggal 15 Oktober 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) lembaga penyedia indeks global asal New York, mengumumkan bahwa mereka sedang mengkaji ulang status pasar modal Indonesia, dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri).
Pengumuman ini, membuat perdagangan pada akhir pekan lalu bergejolak. Namun, MSCI telah memberi tenggat waktu bagi Indonesia hingga 20 Juni 2027 untuk membuktikan bahwa reformasi pasar modal benar-benar mengejawantah secara nyata.
Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) menyatakan bahwa pemerintah, regulator, dan pelaku usaha perlu terus bersinergi agar kepercayaan investor dapat pulih dan aktivitas ekonomi tetap tumbuh secara berkelanjutan.
Baca juga:
IHSG Ditutup Terjun Bebas 11,57%, Saham BCA Paling Banyak Dilepas Investor Asing
Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap tantangan. Justru kita harus menghadapi tantangan dengan kebijakan yang tepat, tata kelola yang semakin baik, dan keberanian untuk terus berinvestasi,
kata Ketua Umum BPP Hipmi Ade Jona Prasetyo dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (19/10).
Hal itu dikatakan Ade Jona menanggapi anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10).
Lebih lanjut, BPP Hipmi mendorong agar momentum tekanan pasar ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat fundamental perekonomian nasional, meningkatkan transparansi pasar modal, menjaga kepastian regulasi, serta mempercepat reformasi yang mendukung investasi dan daya saing Indonesia.
Hipmi siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor riil dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan,
ujarnya.