PERNAHKAH Anda merasa sangat ingin tahu atau justru menjadi orang yang dihujani berbagai macam pertanyaan, yang sebenarnya enggan sekali Anda bagikan jawabannya?
Sepertinya hal seperti itu jamak terjadi di Indonesia, sehingga tak mengherankan ketika Elizabeth Gilbert dalam bukunya, Eat, Pray, Love, menyinggung sedikit mengenai ‘serbaingin tahu’ ala orang Indonesia itu. Dalam istilah kekinian, ‘serbaingin tahu’ urusan orang lain disebut dengan istilah ‘kepo’.
Setiap orang yang selalu gemar menguntit urusan orang lain langsung akan diberi label, ‘kepo’. Bahkan, dalam urusan bermain di media sosial pun seseorang bisa menjadi orang yang ‘kepo’. Rasanya, kata ‘kepo’ ini memang pas dan cocok sekali dengan orang Indonesia. Meskipun demikian, istilah ‘kepo’ bukanlah istilah asli dari bumi Nusantara. Kata satu ini bisa dibilang ‘istilah impor’ yang kemudian menjadi kesohor. Tak lain karena istilah ini pas sekali dengan karakter bangsa kita. Lalu, dari manakah ‘kepo’ berasal?
Istilah ‘kepo’ dikenal sebagai salah satu kata populer dalam Singlish (Singaporean English), yaitu ‘kay poh’. Seperti sebagian besar kata Singlish yang merupakan kata impor, ‘kay poh’ pun dicomot dari bahasa Tiongkok yang ditujukan untuk menyebut seseorang yang amat ingin tahu mengenai urusan pribadi orang lain. Kini, kata itu tak hanya dikenal di Singapura, tapi juga Indonesia.
Selain ‘kay poh’ tadi, masih banyak kata dalam berbagai bahasa yang tadinya merupakan kosakata asing berkembang menjadi dengan penuturnya sendiri, semisal kata ‘bungalow’. Kata ‘bungalow’ berasal dari bahasa Hindi, ‘bangla’, yang berarti rumah peristirahatan satu tingkat yang lazim ada di Benggala, kemudian karena adanya hubungan dagang selama berabad-abad antara Inggris dan India, kata itu pun diserap ke bahasa Inggris, tentunya dengan penyesuaian dalam pengucapan dan penulisan.
Bahasa Indonesia juga punya contoh lain, yakni kata ‘syok’ yang berasal dari bahasa Punjabi, ‘shiok’. Orang Singapura pun menggunakan kata ‘shiok’ untuk mengungkapkan kekaguman atau kepuasan mereka pada sesuatu yang bermutu terbaik atau terhebat. Tak berbeda jauh, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan lema ‘syok’ dengan ‘sangat menarik, indah sekali’. Makna itu tidak jauh memang dari makna awalnya, yakni ‘great’ (bagus atau hebat).
Layaknya barang dagangan, bahasa pun menjadi komoditas tersembunyi dalam sebuah hubungan perniagaan. Berawal dari kontak dagang itulah dapat terbentuk istilah-istilah dagang yang menjembatani komunikasi antardua bangsa dengan bahasa yang berbeda. Dari sanalah terbentuk bahasa pijin yang merupakan bahasa kontak yang digunakan orang-orang dengan latar belakang berbeda-beda.
Pijin biasanya memiliki tata bahasa yang sederhana dengan kosakata yang diambil dari berbagai bahasa berbeda. Seiring berjalannya waktu, bahasa pijin pun berubah menjadi kreol yang ditandai dengan adanya kelompok pendukung yang notabene merupakan penutur asli dari bahasa pijin yang terbentuk sekian lama.
Sebagai contoh, bahasa Indonesia peranakan yang berkembang dan banyak digunakan di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penuturnya ialah orang Tionghoa peranakan. Bahasa Indonesia peranakan merupakan rumpun bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Tionghoa, terutama bahasa Hokkien. Kosakata kreol dari bahasa Indonesia peranakan, misalnya ‘cepek’ (seratus), dan ‘taci’ (kakak perempuan).
Kecanggihan teknologi, mobilitas orang, dan juga perdagangan global tanpa disadari memegang peran penting dalam menyebarkan dan mencampurkan kata-kata dari satu rumpun bahasa ke rumpun bahasa lainnya. Dari yang awalnya hanya sebagai bahasa dagang (pijin), beberapa kosakata asing amat mungkin menjadi kata yang diserap dan umum digunakan dengan penuturnya sendiri (kreol).
Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Oxford English Dictionary (OED) memasukkan beberapa kosakata Singlish, termasuk kata ‘shiok’, ke deretan lema mereka. Bukan tak mungkin, nanti ‘kepo’ pun menjadi lema yang terdaftar di KBBI.(*)
Baca juga Optimalkan Jadwal Harianmu. Orang Sukses Melakukannya