MerahPutih.com - Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan melalui operasi pemadaman darat, dukungan operasi udara, serta optimalisasi operasi modifikasi cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan seiring penurunan jumlah titik panas atau hotspot secara nasional sebesar 77,5 persen dalam 24 jam terakhir.
Juru Bicara sekaligus Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton S.P. Panjaitan, mengatakan pemadaman darat tetap menjadi prioritas karena dinilai lebih efektif untuk menjangkau titik kebakaran.
"Sedangkan operasi pemadaman tentu mengutamakan operasi darat karena pemadaman ini yang lebih efektif. Operasi darat bisa memadamkan seketika, (walaupun) tidak sampai ke dalam gambut," ungkap Berton, Rabu (14/10).
Pemadaman Darat Jadi Prioritas Penanganan Karhutla
Selain mengandalkan pemadaman darat, pemerintah memberikan dukungan melalui operasi udara dan mengoptimalkan OMC. Pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut mempertimbangkan ketersediaan serta pertumbuhan awan yang berpotensi mendukung terjadinya hujan.
Menurut Berton, OMC dapat dioptimalkan ketika pertumbuhan awan berada di wilayah yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian guna mendukung pembentukan hujan.
"Kemudian operasi OMC. OMC sangat bergantung pada pertumbuhan awan. Jadi ketika pertumbuhan awan ada di Kalimantan Barat kita optimalkan sehingga hujan yang kontinu, yang konsisten itu tetap terjadi. Jadi ini yang kita jaga momentumnya," jelasnya.
Baca juga:
Polri Tetapkan 223 Tersangka Karhutla, Lahan Terbakar Capai 5.157 Hektare
OMC untuk Kalteng dan Sumsel Disesuaikan dengan Kondisi Awan
Berton menjelaskan, operasi modifikasi cuaca untuk menangani karhutla di Kalimantan Tengah dilakukan dari beberapa lokasi. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan awan agar operasi berjalan optimal.
Sementara itu, untuk penanganan karhutla di Sumatera Selatan, OMC direncanakan menggunakan pangkalan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.
"Jadi, ada helikopter direncanakan dari sana karena visibility lebih memungkinkan di sana," terangnya.
Kemenhut Kerahkan 1.419 Personel Manggala Agni
Dukungan penanganan karhutla juga diperkuat melalui pengerahan personel. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ristianto Pribadi, menyebutkan sebanyak 1.419 personel Manggala Agni diterjunkan di empat provinsi.
Kemenhut juga menyiapkan 5.000 aparatur sipil negara (ASN) untuk mendukung penanganan karhutla. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 personel berstatus bantuan kendali operasi (BKO) saat ini aktif di lapangan.
Pengerahan personel tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang menjadi fokus penanganan.
Baca juga:
Karhutla Makin Meluas, Pemerintah Siapkan 30 Sumur Bor dan Tambah Ekskavator
Data Hotspot Oktober Lebih Rendah Dibandingkan September
Data Kemenhut menunjukkan jumlah hotspot pada periode 1–13 Oktober 2026 lebih rendah dibandingkan periode 17–30 September 2026.
Pada periode 17–30 September, tercatat 9.080 hotspot atau rata-rata 649 titik per hari. Jumlah tertinggi terjadi pada 20 September, dengan 1.843 titik.
Sementara itu, selama periode 1–13 Oktober 2026, jumlah hotspot tercatat sebanyak 7.519 titik. Puncaknya terjadi pada 8 Oktober dengan 1.029 titik.
Penurunan tajam juga terlihat pada data harian 13 Oktober. Jumlah hotspot nasional turun dari 1.085 titik pada 12 Oktober menjadi 244 titik pada 13 Oktober.
Secara nasional, 24 jam terakhir turun 77,5 persen. Khusus untuk di Kalimantan Tengah, terdapat penurunan dari 227 titik hotspot menjadi 65 titik hotspot. Serta di Sumatera Selatan dari 147 titik hotspot menjadi 59 titik hotspot,
Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan.
(Asp)