Hari Kesehatan Sedunia

Hentikan Adiksi, Saatnya Lakukan Detoks Digital

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 04 April 2018
Hentikan Adiksi, Saatnya Lakukan Detoks Digital

Jangan tunggu adiksi digital merusak kehidupan Anda. Lakukan detoks digital. (foto: shethepeople)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ADIKSI digital merupakan suatu yang nyata. Ketergantungan berlebih pada gawai bisa berakibat buruk bagi kehidupan sosial, mental, hingga kesehatan seseorang.

Saat adiksi sudah amat merugikan, inilah saatnya Anda melakukan detoks digital. Apa itu?

Detoks digital adalah sebuah periode waktu sementara untuk sepenuhnya tak terhubung dengan alat-alat digital. Tujuannya, untuk fokus pada interaksi sosial, mengurangi stres, dan hadir sepenuhnya di dunia nyata.

Istilah detoks digital pertama kali diperkenalkan lewat Oxford English Dictionary di 2013, enam tahun setelah peluncuran pertama iPhone. Kehadiran ponsel pintar tersebut memang benar-benar telah mengubah pola hidup manusia.

Tak hanya itu, kehadiran iPhone merevolusi pemakaian ponsel pintar. Namun, hal itu tak selamanya berdampak positif. Perubahan yang terlalu cepat, perpindahan dari dunia nyata ke interaksi maya telah menyeret banyak orang ke dalam keadaan adiksi.

Tak sedikit studi yang menemukan bahwa adiksi terhadap ponsel pintar bisa mengarah ke gangguan kejiwaan, bahkan hingga nomofobia. Ketakutan berlebih saat berjauhan dari ponsel itu membuat seseorang secara konstan selalu mengecek keberadaan ponselnya.

Ada pula mereka yang selalu kehilangan fokus saat bekerja demi mengecek notifikasi meski hanya beberapa detik. Lebih jauh, adiksi digital bahkan memaksa seseorang untuk ikut dalam budaya selalu 'on'. Hal itu membuat seseorang tak mau ketinggalan dalam segala hal terkini di dunia maya.

FOMO demikian istilahnya. Fear of missing out atau takut ketinggalan tren menjadi penanda bahwa adiksi digital memaksa seseorang untuk selalu berusaha mengikuti hal-hal terkini di dunia maya alih-alih interaksi di dunia nyata.

Putuskan hubungan dengan medsos agar hidup dunia maya dan nyata seimbang. (foto: globalthrive)

Kelekatan pada gawai juga membuat Anda kurang tidur. Cahaya biru dari layar ponsel akan membuat produksi melatonin terhambat. Akibatnya, kualitas tidur pun berkurang. Jika sudah demikian, jangan harap Anda bisa punya fokus yang prima dan kemampuan mengolah informasi yang mumpuni.

Seperti dilansir It's Time to Log Off--sebuah platform untuk terlepas dari adiksi digital--detoks digital dengan mengatur waktu penggunaan gawai ataupun membatas penggunaannya akan berdampak besar bagi hidup Anda. Tambahan waktu tidur ialah salah satu impak positifnya. Peningkatan fokus sebagai hasil dari istirahat yang cukup bisa Anda dapatkan dari detoks digital yang Anda jalankan.

Cara terbaik untuk melakukan detoks digital ialah memutuskan sepenuhnya koneksi Anda ke dunia digital dalam waktu tertentu. Selain itu, Anda perlu menetapkan batas-batasan tertentu untuk penggunaan gawai secara harian.

Platform detoks digital tersebut juga menyarankan Anda untuk menerapkan diet digital dengan perhitungan 5:2. Artinya, Anda bisa menggunakan gawai selama 5 hari dengan efektif, lalu 2 hari tanpa gawai sama sekali.

Berani coba?(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan