Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Hari Perempuan Internasional

Hanya Perempuan yang Bekerja di Stasiun TV Ini

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 08 Maret 2018
Hanya Perempuan yang Bekerja di Stasiun TV Ini

Ilustrasi. (foto: huffingtonpost)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

CERITA wilayah yang hanya dihuni perempuan ala Themyscira di film Wonder Woman atau layaknya Amazon ternyata bisa jadi benar adanya. Meskipun bukan sebuah kerjaan ataupun negara, sebuah stasiun TV di Kabul, Afghanistan, ini menjadi bukti bahwa perempuan bisa dan mampu membangun sesuatu dengan mandiri.

Zan TV, demikianlah nama stasiun TV yang keseluruhan pekerjanya ialah perempuan. Dikutip dari CNN, Zan TV didirikan pada Maret 2017 dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Hal itu amat sesuai dengan nama mereka. Zan dalam bahasa Dari berarti perempuan.

Selama Taliban berkuasa di negara itu, pada 1996-2001, hak-hak perempuan ditiadakan. Rezim yang berkuasa juga menutup semua akses pendidikan dan informasi untuk perempuan.

Kini, 16 tahun setelah kejatuhan Taliban, perempuan Afghanistan sedikit demi sedikit kembali menempati peran penting dalam kehidupan sosial dan profesional. Meskipun demikian, dengan masih adanya perang dan konflik yang masih berlanjut, berbagai sektor pun ikut merasakan imbasnya. Termasuk bidang jurnallistik.

Salah satu ruang kerja di Zan TV. (foto: Youtube)

Sebuah survei yang dirilis Centre of Afghan Women Journalists pada November lalu menyebut telah terjadi penurunan jumlah perempuan jurnalis dalam beberapa tahun terakhir. Laporan itu juga menyebut hanya 1.037 perempuan yang bekerja di media.

Dalam kondisi seperti itulah Zan TV hadir. Mereka berharap dapat mengubah keadaan. Caranya, memberikan perempuan lebih banyak kesempatan tampil di depan kamera, sekaligus kemampuan untuk melakukan investigasi dan melaporkan isu-isu yan terkait dengan perempuan.

"Momen paling bahagia dalam hidupku ialah saat aku melaporkan fakta secara visual, tentang tantangan yang dihadapi perempuan dalam masyaraat kami," ujar Shogofa Sidiqui, reporter kepala di stasiun TV tersebut.

Meskipun menyadari bahwa perempuan akan menghadapi tantangan dan perjuangan yang berat dalam bidang jurnalisme, terlebih dengan adanya kemungkinan kekerasan dan ancaman, Sidiqui tetap optimistis bahwa generasi muda perempuan akan mengikuti jejak mimpi yang tengah mereka bangun.

"Mereka harus menunjukkan keberanian dan kemampuan untuk menjadi contoh bagi perempuan lain di masa depan," ujarnya. (dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan