Guncangan Politik akibat Dekrit Darurat Militer Picu Menjamurnya Film Dokumenter di Sinema Korea, Disebut Bikin Negara makin Terpecah

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 14 Februari 2025
Guncangan Politik akibat Dekrit Darurat Militer Picu Menjamurnya Film Dokumenter di Sinema Korea, Disebut Bikin Negara makin Terpecah

Poster film dokumenter 'Cheer Up, Korea' yang akan tayang 27 Februari mendatang.(foto: Korean Film Council)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - PENGUMUMAN dekrit darurat militer oleh Presiden Yoon Suk-yeol pada Desember 2024 mengguncang Korea Selatan. Industri hiburan ikut terimbas. Di ranah perfilman, tren baru film dokumenter politik bermunculan. Bioskop ‘Negeri Ginseng’ belakangan diramaikan berbagai film dokumenter politik, termasuk film-film yang menyoroti Suk-yeol dan anggota DPR Lee Jun-seok dari Partai Reformasi. Fenomena ini dikhawatirkan berpotensi memperburuk iklim politik negara yang sudah sangat terpolarisasi.

Seperti dilansir The Korea Times, para ahli memperingatkan bahwa tren ini berisiko memperdalam perpecahan dengan mendorong loyalitas buta terhadap tokoh politik, sambil mendiskreditkan lawan-lawan politik. “Tren ini sangat memprihatinkan. Ini bukan tentang mengkritik tindakan para politisi ini, tetapi lebih kepada mereka yang menjadi 'politainer' (istilah yang menggabungkan politisi dan entertainer) untuk mencetak nama mereka di mata publik dan mengumpulkan pendukung,” kata Park Sang-byung, seorang komentator politik, dikutip The Korea Times, Selasa (11/2).

Film Himnaera, Daehanminguk, yang diterjemahkan secara langsung sebagai Cheer Up, Korea, yang akan tayang di bioskop pada 27 Februari, mengkaji sejarah modern dari perspektif konservatif, mulai dari Perang Korea 1950-1953 hingga deklarasi keadaan darurat militer oleh Suk-yeol pada 3 Desember 2024. Demikian disebut distributor film Kin Studio.

Poster dokumenter ini menampilkan gambar double exposure dari para pengunjuk rasa konservatif dan Suk-yeol, yang saat ini berada dalam penahanan di Pusat Penahanan Seoul. Ia ditahan atas berbagai tuduhan, termasuk memimpin pemberontakan. Film dokumenter ini jelas menunjukkan sikap pro-Suk-yeol.

Baca juga:

Ricuh, Polisi Seoul Tangkap 90 Pendukung Yoon Suk Yeol karena Terlibat Bentrokan Fisik dengan Aparat Keamanan



Sementara itu, sebuah film yang mendukung anggota DPR Jun-seok dijadwalkan tayang pada 13 Maret. Judul dokumenter ini, Junstone Year One, mengambil nama panggilan politisi berusia 39 tahun tersebut, Junstone. Film ini mengisahkan perjalanan Jun-seok mulai dari pemecatannya sebagai Ketua Partai Kekuasaan Rakyat yang berkuasa, hingga mendirikan Partai Reformasi dan memenangi kursi dalam pemilu umum tahun lalu.

Film ini mengumpulkan lebih dari 50 juta won (sekira Rp 575 juta) melalui situs crowdfunding Korea, Tumblbug. Jumlah itu melebihi target awal sebesar 35 juta won, menunjukkan dukungan kuat untuk politisi muda tersebut.

Selain tokoh politik saat ini, sebuah dokumenter lainnya sedang diproduksi tentang pemerintahan Presiden Kim Dae-jung pada periode 1998-2003. Menurut perusahaan produksi film Cinema 6411 dan Myung Films, dokumenter ini akan menggambarkan perjalanan mantan presiden tersebut dalam meraih kursi kepresidenan.

Seorang profesor politik di Universitas Pukyong National Cha Jae-kwon mengatakan, meskipun film-film tentang politisi ini dapat secara positif menaikkan tingkat popularitas terhadap politisi yang ditampilkan. Di lain sisi aspek negatifnya ialah film-film ini bisa menyebabkan politik yang memecah belah, bukan politik untuk persatuan.

Senada, Sang-byung mengungkapkan kekhawatiran bahwa produksi film semacam ini bisa mendorong fanatisme dan sektarianisme. “Apakah film-film ini direncanakan oleh politisi itu sendiri atau pendukung mereka? Fenomena ini tampaknya merupakan upaya para politisi untuk meningkatkan profil publik mereka,” ujarnya. Ia mengatakan, di masa lalu, politisi akan menerbitkan memoar atau otobiografi untuk menyampaikan pemikiran dan visi mereka. Namun, sekarang upaya ini dilakukan melalui media visual. “Ini langkah yang memprihatinkan yang dapat menyesatkan para pendukung,” imbuhnya.

Upaya-upaya semacam ini, yang berusaha menciptakan bias yang hanya mendukung politisi pilihan, menurut Jae-kwon, harus dikurangi dalam jangka panjang.

“Selama kebebasan berekspresi dijamin konstitusi, film-film ini harus dihormati. Produksi film yang mempromosikan perpecahan semacam ini pada akhirnya memerlukan upaya regulasi diri dari para politisi itu sendiri, serta pembentukan kesadaran sipil yang matang di kalangan warga negara, agar tren ini secara alami menghilang,” tutupnya.(dwi)

Baca juga:

Pendukung Yoon Suk Yeol Serang Media Sosial IU, Puas Presiden Korsel Ditahan?

#Film #Korea Selatan #Yoon Suk Yeol
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Andrew Koji Sempat Tak Percaya Diri Perankan Ryu di Film Live-Action 'Street Fighter'
Andrew Koji mengaku sempat ragu memerankan Ryu di film Street Fighter. Simak tantangan mendalami karakter, kisah turnamen, dan 14 adegan pertarungan utama.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Andrew Koji Sempat Tak Percaya Diri Perankan Ryu di Film Live-Action 'Street Fighter'
ShowBiz
Demi Perankan Chun-Li di 'Street Fighter', Callina Liang Jalani Latihan Intensif dan Konsumsi 12 Telur Sehari
Callina Liang menjalani latihan bela diri 5–6 hari sepekan dan mengonsumsi 12 telur sehari demi memerankan Chun-Li di film Street Fighter.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Demi Perankan Chun-Li di 'Street Fighter', Callina Liang Jalani Latihan Intensif dan Konsumsi 12 Telur Sehari
ShowBiz
Bukan Cuma Adu Jurus, Film Live-Action 'Street Fighter' Juga Sajikan Komedi yang Menggelitik
Film Street Fighter tayang 14 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Simak sinopsis Ryu dan Ken, 14 adegan pertarungan, serta daftar pemainnya.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Bukan Cuma Adu Jurus, Film Live-Action 'Street Fighter' Juga Sajikan Komedi yang Menggelitik
ShowBiz
Daftar Lengkap Nominasi Kids’ Choice Awards 2026, Alex Warren Jadi Pembawa Acara
Simak daftar nominasi Kids’ Choice Awards 2026 dalam kategori film, musik, serial TV, olahraga, kreator, gim, dan podcast. Alex Warren menjadi host.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Oktober 2026
Daftar Lengkap Nominasi Kids’ Choice Awards 2026, Alex Warren Jadi Pembawa Acara
ShowBiz
Daftar Lengkap Nominasi Piala Citra FFI 2026, dari Film hingga Skenario Terbaik
Daftar lengkap nominasi FFI 2026 untuk 22 kategori Piala Citra, mulai dari Film Cerita Panjang Terbaik hingga Penulis Skenario Asli Terbaik.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Oktober 2026
Daftar Lengkap Nominasi Piala Citra FFI 2026, dari Film hingga Skenario Terbaik
ShowBiz
Baru Debut, Bernadus Raka Masuk Nominasi Sutradara Terbaik FFI 2026
Dalam nominasi Sutrada Terbaik FFI, Bernadus bersaing dengan Edwin, Joko Anwar, Wregas Bhanuteja, dan Kimo Stambuel.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Baru Debut, Bernadus Raka Masuk Nominasi Sutradara Terbaik FFI 2026
ShowBiz
Teror Penjara hingga Kritik Sosial, Film 'Ghost in the Cell' Borong 13 Nominasi FFI 2026
Ghost in the Cell karya Joko Anwar masuk 13 nominasi FFI ke-46. Simak daftar kategori, latar cerita, perjalanan di Berlinale 2026, dan jajaran pemainnya.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Oktober 2026
Teror Penjara hingga Kritik Sosial, Film 'Ghost in the Cell' Borong 13 Nominasi FFI 2026
ShowBiz
FFI 2026 Umumkan Nominasi Utama Pria Terbaik, Nicholas Saputra Bersaing dengan Marthino Lio
Nicholas Saputra jadi aktor yang paling banyak masuk nominasi Aktor Terbaik.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
FFI 2026 Umumkan Nominasi Utama Pria Terbaik, Nicholas Saputra Bersaing dengan Marthino Lio
ShowBiz
FFI 2026 Umumkan Nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik, Christine Hakim hingga Shenina Cinnamon Saingan untuk Piala Citra
Jika tahun ini Christine Hakim kembali memenangi nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik, dia resmi mengoleksi total enam piala.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
FFI 2026 Umumkan Nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik, Christine Hakim hingga Shenina Cinnamon Saingan untuk Piala Citra
ShowBiz
Film Baru Tom Cruise ‘Digger’ Flop, Diproyeksikan Rugi Rp 3,8 Triliun
Berpotensi menjadi salah satu film dengan kegagalan finansial (flop) terbesar dalam sejarah Hollywood.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Film Baru Tom Cruise ‘Digger’ Flop, Diproyeksikan Rugi Rp 3,8 Triliun
Bagikan