BERBOHONG adalah suatu perbuatan dimana seseorang mengatakan hal yang jauh dari kenyataan. Terkadang seseorang mengatakan kebohongan karena menjadi suatu kebiasaan atau untuk mendapatkan keuntungan dari kebohongan tersebut.
Ada juga seseorang yang berbohong karena terpaksa melakukannya. Lantas, apakah sering berbohong bisa menjadi suatu gangguan atau penyakit? Ternyata benar, gangguan tersebut disebut Mythomania.
Menurut Dokter Endah Ronawulan SpKJ., dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, Mythomania atau disebut juga Pseudologia Fantastica adalah kelainan dimana seseorang melakukan kebohongan secara terus menerus atau kompulsif. Menurutnya, kebohongan tersebut dilandasi dengan adanya tujuan tertentu demi kepentingan pribadi mereka.
"Kebohongan mereka sebagian besar ditujukan untuk menarik perhatian dan menggembungkan kepentingan mereka, berbeda dengan penipuan tipikal yang direncanakan dengan cermat," jelas Dokter Endah.
Tentunya penderita mythomania juga bisa dibilang memiliki kelainan psikologis. Kebohongan yang mereka lakukan bukan memiliki tujuan untuk menipu orang. Si penderita bahkan merasa kebohongan yang ia buat adalah suatu fakta atau hal yang nyata adanya.
Secara umum seseorang berbohong atas kesadaran diri sendiri. Berbeda dengan penderita mythomania. Saat melakukan kebohongan mereka sama sekali tidak menyadari perbuatannya tersebut. Khayalan yang ada dipikirannya juga tidak tersirat secara sadar dalam pemikirannya.
Bahkan penderita mythomania tdak tahu dampak yang terjadi pada seseorang yang terkena kebohongannya. Yang terpenting, penderita mythomania ingin mendapatkan pegakuan dari sekitar atas kebohongan yang ia lakukan.
"Kebohongan-kebohongan yang dilakukan olehnya (penderita Mytomania) cenderung di luar kesadaran. Artinya dia tidak tahu atau tidak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dengan kebohongannya," papar Dokter Endah, "Karena yang terpenting baginya adalah dirinya mendapat pengakuan sekelilingnya, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yang tidak mau ia terima, dengan tanpa rasa menderita ataupun perasaan bersalah."
Gejala pada penderita mythomania bisa dikenali melalui segi fisik dan segi mental. Pada gejala fisik terlihat dari kebohongan yang ia lakukan. Orang tersbebut juga suka mengalami rasa cemas pada dirinya. Mythomania akan semakin telihat pada sesorang yang memiliki ide menyerupai paham dan fantasi. Sementara pada gejala fisik, penderita mengalami sakit kepala, lemas, dan berdebar.
Penyebab gangguan ini berakar pada pengalaman menemui kegagalan dalam hidup. Di masa kecilnya sang penderita mengalami tekanan kehidupan. Bisa kegagalan dalam bidang pendidikan ataupun masalah keluarga. Penderita mythomania ingin menghindari kenyataan itu. Ia ingin melarikan diri dari kenyataan yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Maka dari itu, melakukan kebohongan membuat si penderita merasa lega, seakan bisa menghapus segala pengalaman buruk dalam hidupnya.
"Jadi, semakin orang lain mempercayai kebohongannya, semakin ia terbantu untuk lepas dari image nyata tentang dirinya yang sulit ia terima itu," lanjut Dokter Endah.
Untuk mengobati gangguan mythomania bisa ditempuh dengan cara Terapi Dengan farmakoterapi dan psikoterapi, CBT/kognitif. Aktivitas tersebut akan membantu menemukan asal dirinya berbohong. Akan lebih baik juga dengan dibantu orang terdekat agar si penderita menyadari kebohongan yang ia lakukan dalam hidupnya.
Baca juga artikel lainnya Ini Penyebab Kanker Serviks