Teknologi

Facebook Akui Intip Percakapan di Messenger

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 07 April 2018
Facebook Akui Intip Percakapan di Messenger

Ilustrasi. (Foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

JIKA selama ini Anda berasumsi bahwa percakapan Anda di Messenger Facebook aman dan privat, pikir ulang.

Facebook mengonfirmasi pada Kamis (5/4) bahwa pihak mereka menggunakan peranti otomatis untuk memindai percakapan di Messenger. Hal itu dilakukan untuk menemukan tautan malware ataupun gambar-gambar yang terkait dengan pornografi anak. Selain itu, mereka juga memungkinkan pengguna melaporkan percakapan yang melanggar nilai-nilai sosial.

Pemindaian yang dilakukuan moderator perusahaan itu bisa meninjau ulang pesan-pesan yang ditandai pengguna ataupun sistem otomatis.

Pernyataan itu menambah keterkejutan publik setelah skandal kebocoran data pengguna menerpa Facebook. Sudah sejak lama, pekerja di platform media sosial itu bisa me-review unggahan untuk memastikan hal itu sesuai dengan nilai-nilai sosial. Meskipun demikian, banyak pengguna Facebook meyakini bahwa segala percakapan yang mereka lakukan di platform itu ialah privat.

"Isi percakapan antarpengguna tidak digunakan sebagai sasaran iklan. Kami tak mendengarkan suara Anda juga sambungan video call," ujar juru bicara perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari CNN.

Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa menjaga kerahasiaan setiap percakapan menjadi prioritas bagi Facebook. Pemindaian yang mereka lakukan saat ini merupakan hal biasa dan menggunakan peranti yang mirip dengan yang umumnya digunakan perusahaan internet.

Isu keamanan di media sosial menjadi perhatian setelah merebak kabar bahwa Cambridge Analytica, sebuah firma penyedia data yang dikaitkan dengan kampanye Presiden Donald Trump, mungkin memegang data pengguna Facebook tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Hal itu kemudian memicu tuntutan publik agar Facebook lebih transparan dalam menangani data pengguna.

Khusus untuk Messenger, aplikasi yang terdapat di lama Facebook itu menjadi perhatian setelah CEO Facebook Mark Zuckerberg membuat pernyataan bahwa perusahaannya mendeteksi adanya pengiriman 'pesan sensasional' via Messenger di Myanmar.

Sejumlah jurnalist dan pegiat hak asasi manusia telah lama menduga bahwa Facebok digunakan untuk menyebar berita bohong di Myanmar. Akibatnya, hal itu memicu timbulnya kekerasan terhadap etnik Rohingya.

"Dalam hal itu, jika sistem kami mendeteksi hal itu terjadi, kami akan menghentikan penyebaran pesan tersebut," ujar Zuckerberg dalam sebuah wawancara dengan Vox.

Beberapa waktu lalu, Zuckerberg sendiri mengakui bahwa Facebook bisa jadi bumerang bagi demokrasi di semua negara. Maraknya penyebaran berita bohong atau hoax di platform media sosial tersebut telah memunculkan kecemasan.

Oleh karena itu, Zuckerberg berjanji akan mengatasi hal tersebut. Selain itu, ia juga dijadwalkan hadir di hadapan Kongres AS, pekan depan, untuk menjelaskan tentang penanganan data pengguna di perusahaannya.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan