YOUTUBE Indonesia didominasi oleh generasi milenial. Konten yang disajikan acapkali menggambarkan kehidupan kaum urban.
YouTuber asal Papua yang lebih dikenal dengan Epen Cupen (Emang Penting Cukup Penting) tampil berbeda. Dengan berani mereka menampilkan budaya Papua. Tak hanya itu, bahasa yang digunakan dalam percakapan pun menggunakan bahasa Papua.
Dengan tampil berbeda mereka berhasil menarik penonton Indonesia. Jumlah viewers mereka di YouTube pun melonjak tinggi. Keberhasilan mereka dalam menarik penonton diapresiasi YouTube dengan memberikan hadiah Silver Bottom kepada Youtube kreator asal Papua ini.
Irham Acho Bahtiar sosok dibalik kesuksesan Epen Cupen. “Saya lahir di Merauke namun sekolah di Institut Kesenian Jakarta. Selepas sekolah, saya ingin melakukan sesuatu untuk tanah kelahiran saya,” jelas Acho.
Film pertama yang ditayangkan Epen Cupen adalah Melodi Kota Rusa. Film tersebut hanya ditayangkan di Papua. Walau demikian, antusiasme masyarakat terhadap film tersebut sangat tinggi. Dari film tersebut muncul nama Dodi Mahuse. Ia menjadi ikon bagi film tersebut.
“Awalnya Acho yang ajak saya syuting,” ungkap Dodi. Dalam film tersebut, Dodi hanya menjadi dirinya sendiri. Itulah yang membuat ia tertarik bergabung dalam film Epen Cupen. Meski sempat hengkang untuk beberapa saat, Dodi memutuskan menjadi bagian dalam Epen Cupen kembali.
Selanjutnya, Acho mencoba membuat sketsa. Pembuatan sketsa tersebut lantaran popularitas mereka mulai meningkat. Tokoh yang pertama kali ditampilkan dalam Epen Cupen adalah Dodi Mahuse dan Suroso. Dipilihnya Suroso, orang Jawa dalam film tersebut untuk menggambarkan multikulturalisme di tanah Papua.
“Kami ingin tunjukkan bahwa Papua itu Indonesia sekali. Ada bermacam-macam suku,” terang Acho.
Acho menuturkan sketsa Epen Cupen diputar di televisi lokal Papua. “Di sana hanya ada berita, tidak ada hiburan. Untuk itu kami sajikan Epen Cupen,” tuturnya dengan logat Papua yang khas.
Kehadiran sketsa tersebut disambut antusias oleh masyarakat Papua. Itu dibuktikan dengan rating sketsa tersebut yang sangat tinggi. Melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, iseng-iseng Acho mengunggah di YouTube. Tak disangka, Epen Cupen berhasil meraup jumlah penonton yang sangat banyak.
Selain Acho, Dodi pun tak menyangka jika sketsa Epen Cupen ditonton banyak orang. “Awalnya hanya iseng-iseng saja, namun ternyata tersebar begitu saja,” jelas pria Papua yangselalu mengenakan gaya busana ala hiphop.
Dengan hadirnya Epen Cupen di YouTube, Acho berharap masyarakat Indonesia lebih memahami Papua. Melalui video-video Epen Cupen yang diunggah di YouTube, Acho ingin mengajak masyarakat melihat sisi lain dari Papua. Ia ingin mengubah stigma negatif yang berkembang bahwa orang Papua itu kasar dan brutal.
Dalam film tersebut, Acho juga selalu mengangkat isu sosial dan budaya yang kerap terjadi di Papua. Salah satunya bagaimana orang Papua berinteraksi dengan suku lain. (avia)