Enchanting Legong, Diplomasi dalam Karya Porselen

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 30 April 2018
Enchanting Legong, Diplomasi dalam Karya Porselen

Maestro tari Legong Bulantrisna Djelantik (kiri) dan Bagus Pursena saat soft launching Enchanting Legong. (foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DIPLOMASI bisa muncul dalam berbagai bentuk. Tak melulu pembicaraan politik, diplomasi bisa menjelma dalam pertukaran kebudayaan antarnegara. Kain adat, pahatan, juga bentuk seni rupa bisa menjadi bentuk diplomasi. "Setiap kepala negara ke luar negeri membawa cendera mata. Biasanya kain adat, pahatan, dan sekarang ini porselen," ujar Direktur PT Nuanza Porcelain Indonesia Bagus Pursena saat ditemui Merahputih.com dalam acara peluncuran koleksi Enchanting Legong pada ajang Inacraft di Jakarta Convention Center, Sabtu (29/4).

Nuanza Porcelain Indonesia sendiri telah berproduksi sejak 2008. Pabrik produsen porselen untuk figurine, tile, tableware, dan trofi tersebut terletak di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, pihak Istana Kepersidenan selalu memesan patung dari pabrikan porselen tersebut. Patung-patung tersebut acap dibawa presiden dalam setiap kunjungan kenegaraan. "Jadi sekarang patung-patung produksi kami sudah tersebar ke seluruh dunia," ujar Bagus.

Sebagai simbol diplomasi, patung-patung yang dibawa tersebut menampilkan kebudayaan Indonesia, semisal pengantin Jawa dan tari Bali. Yang terbaru, Nuanza Porcelain menggandeng maestro tari Legong Bulantrisna Djelantik dan ahli porselen asal Jepang Noriaki Kobayashi untuk membuat karya bertemakan Enchanting Legong.

enchanting legong porcelen
Bulantrisna Djelantik. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Karya Enchanting Legong menampilkan gerak tari Legong yang terinspirasi dari penampilan sang maestro dan penari lain di bawah arahan Bulantrisna. Maestro tari Legong kelahiran Davender, Belanda, pada 1947 itu telah 60 tahun lebih menggeluti dunia tari. Kepiawaiannya dalam menari bahkan telah membawanya menari di Istana Kepresidenan, di hadapan para pemimpin dunia. Dalam perjalanan karier tarinya yang panjang, Bulantrisna pernah mementaskan sejummlah repertoar Legong, yakni Legong Asmarandana, Legong Mintaraga, Bedoyo Legong Calon Arang bersama maestro tari Jawa Retno Maruti, Legong Arya, dan Citra Sarawati.

Legong Lasem dipilih sebagai inspirasi di balik karya tersebut. Pemilihan tersebut didasarkan pada gerak klasik yang diperkirakan lahir pada 1911 di daerah Sukawati, Gianyar, Bali. Dari Legong Lasem lah muncul gerak-gerakan Legong lainnya.

Selain Legong Lasem, inspirasi patung porselen tersebut juga diambil dari Legong Mintaraga. Bulantrisna menyebut Legong Mintaraga mewakili Legong kreasi yang tumbuh kemudian. Sebagai tari kreasi, Legong Mintaraga menarik anak muda untuk menarikannya.

Kurator Enchanting Legong Setianingsih Purnomo mengatakan tarian balih-balihan asal Bali ini memiliki kontraposto (garis S) yang bisa dilihat dari segala sisi. Kontraposto itulah yang digunakan para seniman Mesir untuk menyempurnakan patung mereka sehingga lebih lentur dan bergerak. "Legong ini satu-satunya tarian Nusantara yang memiliki kontraposto," ujarnya.

Tak hanya keunikan gerak, alasan lain pemilihan tari Legong sebagai inspirasi di balik Enchanting Legong ialah pengakuan UNESCO untuk tari Bali tersebut. Ya, badan dunia yang bergerak di bidang kebudayaan tersebut mencatatkan tari Legong sebagai warisan dunia pada 2016 lalu. "Dunia saja mengakui, kami ingin mengapresiasi hal itu," ujar Bagus.

Bentuk apresiasi itu dituangkan dalam bentuk patung. Pihak Nuanza sudah sejak 2013 mendekati Bulantrisna untuk pembuatan patung porselen unik ini. Usaha mereka bersambut, Bulantrisna menyambut baik ajakan Nuanza. Ia bahkan menyebut ini sebagai warisan yang berharga.

Pemilihan material porselen pun bukan tanpa alasan. Porselen merupakan tingkatan tertinggi dalam kreasi keramik. Hanya porselen yang punya warna putih tanpa pewarnaan tambahan. Warna putih porselen merupakan warna alami yang muncul dari proses pembakaran. Selain itu, Bagus menyebut porselen transculent, tembus cahaya. Dalam pembuatannya pun dibutuhkan pengaturan suhu yang sedemikian rupa untuk memperoleh efek bersinar.

Lebih jauh, kurator patung Enchanting Legong, Setianingsih Purnomo, menjelaskan bahwa pembuatan porselen merupakan teknik keramik yang paling maju. Tanah liat yang merupakan materi lapukan mengandung silika yang akan muncul setelah dibakar di atas suhu 1.150 derajat celsius.

Patung porselen Legong dibuat sedatail mungkin. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Jadi simbol diplomasi

Saat ini, Nuanza merencanakan 20 gerakan Legong yang akan dituangkan ke dalam bentuk patung porselen. Namun, belum semua selesai diwujudkan. Di ruang pamer Nuanza di ajang Inacraft, ada 12 gesture yang ditampilkan, yakni aras merayu, nengok gagah, ngencet pengawak, nabdab topeng, goak nyeregseg, agem ngilad, agem wibawa, melinggih ngiluk, agem metaksu, sari prabu, sari keraton, dan sari dewi.

Tak hanya mengerjakan patung porselen Legong, Nuanza telah berpengalaman mengerjakan pesanan patung porselen costum. Bagus menyebut salah satu klien mereka ialah raksasa hiburan Disney. Namun, berbeda dengan membuat patung Legong, membuat figurine Disney jauh lebih mudah. Hal itu disebabkan bentuk dan detailnya yang tak begitu rumit.

Selain itu, Nuanza juga mengerjakan patung porselen pesanan pihak Istana Kepresidenan. Sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kepala negara selalu membawa karya porselen Nuanza saat kunjungan kenegaraan juga saat ada kepala negara asing yang datang berkunjung. Bagus lalu berbagi ceritanya saat menemani Ibu Ani Yudhoyono untuk mengenal lebih jauh setiap mengenai karya porselen yang akan dibawa ke mancanegara. "Ibu Ani biasanya akan mencari tahu patung apa yang dibawa, jadi nanti bisa cerita," ujar Bagus.

Salah satu patung porselen yang pernah dibawa ialah patung tari Panji Semirang asal Bali. "Karya patung kami sudah pergi ke banyak negara, tapi jarang terekspos," ujarnya.

Patung Enchanting Legong akan jadi cendera mata bagi para kepala negara. (foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Patung-patung yang dihasilkan Nuanza memang terkesan eksklusif dan premium. Itu memang tujuan mereka untuk menciptakan cendera mata premium sehingga pantas diberikan dalam kunjungan kenegaraan. Dengan begitu, cendera mata tak sekadar seremoni penyerahan. "Sebenarnya, apa yang kita serahkan ialah wakil kita, bagian dari diplomasi. Berarti harus punya kesan yang mengena," jelasnya.

Pengerjaan keseluruhan seri patung porselen Enchanting Legong masih berjalan. Namun, Bagus menyebut sudah menerima pesanan untuk ajang pertemuan IMF di Bali, Oktober mendatang. Patung porselen Legong tersebut akan dibuat dalam dua bentuk ukuran dalam berbagai gesture. Bahkan, Bagus mengaku pihak Sekretariat Negara telah menyurvei pabrik Nuanza di Boyolali untuk memastikan bahwa produksi patung porselen benar-benar dilakukan di sana dan oleh penduduk lokal.

Kesemua cendera mata bagi para delegasi dan kepala negara yang menghadiri perhelatan internasional di Tanah Air sejatinya memanglah sebuah simbol diplomasi, kedekatan hubungan. Sebagai simbol diplomasi, patung bersifat timeless. "Duta besar punya masa kerja, tapi patung yang diserahkan akan dipajang terus. Akan terus dikagumi," ujar Bagus.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan