MerahPutih.com - Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat terdeteksi di atmosfer Jakarta. Namun, saat ini mulai bergerak menjauh dari wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek seiring perubahan pola angin.
Pemprov DKI tetap menjaga kewaspadaan karena kualitas udara di Jakarta juga dipengaruhi faktor lokal seperti emisi transportasi dan industa, serta kondisi musim kemarau.
Beberapa titik pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta masih menunjukkan kategori sedang hingga tidak sehat, dengan parameter kritis partikulat halus PM2.5.
Gubernur Pramono Anung telah memerintahkan kesiapsiagaan penuh fasiltas kesehatan. Sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu total 367 fasilitas disiagakan untuk menangani potensi gangguan pernapasan atau ISPA.
Baca juga:
Di sisi pengendalian polusi, Pemprov DKI menyiapkan dan mengaktifkan penyemprotan water must (kabut air) yang terpasang di 179 perangkat pada 145 gedung di berbagai lokasi. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga tetap menjadi opsi yang disiapkan berkoordinasi dengan instansi terkait.
Pemprov DKI terus melakukan pemantauan real-time melalui stasiun pemantau kualitas udara, sensor emisi, serta koordinasi erat dengan BMKG, BPBD DKI Jakarta, Dnas Lingkungan Hidup, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Apabila kualitas udara mengalami pemburukan signifikan berdasarkan data resmi, opsi lanjutan seperti rekomendasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa.
Pembatasan aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan, dan imbauan penggunaan masker akan diterapkan sesuai kebutuhan.
Kami memahami kekhawatiran warga Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan saling jaga Pemprov DKI terus memantau secara intensif serta menyiapkan seluruh langkah antisipasi agar kesehatan warga, terutama anak anak, lansia, dan kelompok rentan, tetap terlindungi,
kata Staf Khusus Gubemur DKI Jakarta, Cyril Raoul Hakim atau Chico Hakim, Senin (19/10).