Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Dirayakan Tiap Tahun, Begini Asal Mula Hari Raya Nyepi

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 17 Maret 2018
Dirayakan Tiap Tahun, Begini Asal Mula Hari Raya Nyepi

Ilustrasi. (pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

UMAT Hindu di seluruh Nusantara merayakan Hari Raya Nyepi pada Sabtu (17/3). Hari Raya Nyepi merupakan sebuah peringatan Tahun Baru Saka yang digelar setahun sekali. Saat perayaan Nyepi, umat Hindu di Bali menyepi. Segala aktivitas harian dihentikan.

Meski telah dirayakann sejak 78 Masehi, tak banyak yang mengetahui kisah di balik perayaan Tahun Baru Saka yang amat berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang biasanya penuh ingar bingar.

Seperti dilansir lama PHDI, Nyepi merupakan tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan toleransi dan kerukunan.

Perayaan Nyepi bermula dari persaingan dan pertikaian bangsa-bangsa di kawasan Asia antara bangsa Saka (Scythia), Pahlava (Parthta), Yueh-ci (Tiongkok), Yavana (Yunani), dan Malava (India). Mereka sangat berambisi saling menaklukkan. Selama berabad-abad bangsa-bangsa itu silih berganti saling menguasai wilayah lawan. Tujuannya, memperebutkan daerah yang sangat subur.

Namun, ketika pergerakan humanisme bangkit pada 138-12 SM, terjadilah akulturasi dan sinkretisme di antara bangsa-bangsa tersebut. Hak itu kemudian membuat mereka bergerak ke perdamaian. Timbul juga kesadaran bahwa dunia ini merupakan rumah bersama.

Dalam masa itu, berkuasalah Raja Kaniska I yang mengadopsi perjuangan bangsa Saka untuk menciptakan perdamaian. Raja Kaniska I kemudian menetapkan perhitungan tahun baru pada 78 Masehi. Perhitungan tahun itu kemudian diberi nama Tahun Baru Saka.

Penetapan Tahun Baru Saka itu kemudian diperingati seluruh negeri sebagai tonggak perdamaian dan toleransi. Sebagai perwujudannya, tahun baru tersebut tak dirayakan dalam riuh rendah keramaian, tetapi dalam kondisi khihdmat tapa, brata, dan samadhi.

Hingga kini, umat Hindu tetap merayakan Tahun Baru Saka dengan ritual menyepi yang diwujudkan dalam catur brata Nyepi, yaitu amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Dengan menjalankan tapa (pengekangan atau pengendalian diri) di Hari Raya Nyepi, umat Hindu diharapkan kembali kepada kesadaran untuk bertoleransi.

Selamat Hari Raya Nyepi. (dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan