MERAHPUTIH.COM – SUTRADARA Teddy Soeriaatmadja menunjukkan totalitasnya dalam menggarap serial original Netflix Luka, Makan, Cinta. Tak tanggung-tanggung, demi menghadirkan gastronomi masakan rumahan Indonesia yang dikemas ala fine dining, ia melibatkan profesional seperti food stylist hingga food designer. Semua itu dilakukan demi menghasilkan tampilan hidangan yang estetis di layar. Inilah usahanya untuk tak hanya menghibur lewat naskah, tapi juga visual makanan yang digodok dengan matang nan menggiurkan.
Teddy menjelaskan konsep makanan tak terlalu muluk-muluk. Dalam serial ini, menurutnya, makanan yang ditampilkan diambil dari hidangan sederhana yang akrab dengan keseharian masyarakat, lalu diolah dengan pendekatan visual yang lebih artistik.
"Sebenernya awalnya memang makanan yang di-plating secara fine dining atau spesial. Itu makanan-makanan yang sangat biasa aja gitu. Jadi bukan makanan yang luar biasa terus plating-nya ini. Ini bener-bener masakan rumahan," ujarnya.
Menurutnya, masakan rumahan bisa dibilang merupakan sajian yang biasa kita makan, masakan yang di rumah. "Namun, cara kami menampilkannya itu itu lebih ke sesuatu yang lebih artistik. Lebih benar-benar menarik gitu. Eye-candy banget gitu," lanjutnya.
Baca juga:
Menurutnya, seni menampilkan makanan menjadi hal ditonjolkan dalam serial ini. "Jadi memang makanan yang kita biasa makan. Cuma it's presented in such a unique way. Dan memang yang kami mau benar-benar Indonesian cuisine. And we want that to really define series menu seperti itu," katanya.
Ia juga menegaskan proses tersebut melibatkan kolaborasi lintas tim dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bahkan tim kru kreatif, hingga artistik terlibat dengan detail dalam adegan yang menunjukkan makanan. "Kami juga melakukan ini tentunya dengan konsultasi. Dengan food stylist dan food designer. Jadi memang prosesnya lumayan panjang," ujarnya.
Teddy menekankan para pemeran hingga pemain latar turut diikutikan dalam workshop memasak agar adegan ynag ditampilkan menunjukan ekosistem dapur yang sesungguhnya. "Mawar, Deva juga harus belajar plating. Mempersiapkan makanan itu. Mungkin butuh beberapa bulan untuk belajar semua plating dan cara potong," kata dia.
Tak cuma itu, Teddy juga memastikan tak ada restoran mana pun yang menjadi rujukan dalam membangun setnya. Semuanya, menurut Teddy, dibuat sesuai dengan ide dan gagasannya. "Jadi dari situ sih. Jadi bukan enggak ngambil dari inspirasi dari restoran mana. Namun, tentunya saya juga bisa membuat sesuatu seperti in lewat diskusi dengan tim artistiknya, dengan food stylist. It's a good collaboration between the departments. Oke, jadi ini hasil dari proses kreatifnya," tegasnya.
Serial Luka, Makan, Cinta mengisahkan rumitnya hubungan profesional ibu dan anak di dapur Umah Rasa. Pemilik Umah Rasa, Sari, lebih mempercayakan posisi kepala koki kepada orang luar, yakni Dennis, daripada anaknya, Luka, karena dianggap belum siap.
Ketegangan ego dan gaya memasak memicu konflik tajam di dapur. Namun, di tengah usaha memperbaiki hubungan dengan ibunya dan menyelamatkan restoran, tumbuh benih-benih cinta antara Luka dan Dennis.(Tka)
Baca juga: