Demi Keamanan, Trump Larang AS Transaksi dengan ByteDance
Trump juga melarang warganya untuk tidak bertransaksi menggunakan WeChat. (Foto: DW)
PRESIDEN AS Donald Trump resmi mengeluarkan perintah eksekutif mengenai pemblokiran transaksi dengan perusahaan teknologi asal Tiongkok, ByteDance. Perintah tersebut mengikuti pernyataan Trump beberapa waktu lalu yang khawatir dengan keamanan data warga AS oleh Tiongkok. Larangan transaksi tersebut akan dilakukan dalam rentang waktu 45 hari.
Seperti yang diketahui, ByteDance merupakan perusahaan induk dari TikTok yang didirikan oleh Zhang Yiming pada 2012 silam. Trump mengklaim bahwa aplikasi seperti TikTok secara diam-diam mencuri data publik untuk disetor kepada Partai Komunias Cina. Ia juga berpendapat bahwa TikTok menghadirkan ancaman nasional karena kepemilikannya di Tiongkok.
Baca juga:
Samsung Rilis Galaxy Note 20 dan Note 20 Ultra, Intip Spesifikasinya
“Penyebaran terus mengancam keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi AS,” ujar Trump mengutip The Verge.
“AS harus mengambil tindakan agresif terhadap pemilik TikTok demi melindungi keamanan nasional kita,” lanjutnya.
INBOX: @realDonaldTrump has signed an executive order to ban TikTok in 45 days. pic.twitter.com/1zR4HgCPVj
— Andrew Feinberg (@AndrewFeinberg) August 7, 2020
Dalam perintahnya tersebut, Trump menamai Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional sebagai otoritas, serta Undang-Undang Keadaan Darurat Nasional yang secara efektif menyebut operasi lanjutan TikTok di AS sebagai darurat nasoinal.
ByteDance sendiri juga memiliki kantor pusat di AS, tepatnya di wilayah selatan California. TikTok sebenarnya sudah diunduh sebanayak 175 juta kali di AS dan lebih dari satu miliar kali di dunia. Tidak hanya ByteDance, Trump juga melarang AS untuk bertransaksi dengan WeChat, sebuah aplikasi milik raksasa teknologi Tencent yang berbasis di Tiongkok.
Baca juga:
New Normal, Outfit Perempuan Paling Banyak Diminati di Situs E-Commerce
Jika diperhatikan, larangan tersebut akan dimulai tidak lama setelah tenggat waktu negosiasi Microsoft dengan ByteDance, yakni 15 September 2020. Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Trump tidak akan melarang TikTok kecuali perusahaan AS membeli TikTok. Microsoft pun tengah berupaya membeli operasional TikTok di AS agar aplikasi video itu bisa bertahan.
Mengutip Deadline, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan TikTok dapat mengumpulkan data pribadi AS melalui pengenalan wajah, informasi tempat tinggal, nomor telepon, dan teman-teman yang terhubung dengan pengguna.
“Pengumpulan data ini memungkinkan Partai Komunis Cina mengakses informasi pribadi dan hak milik orang Amerika,” kata Pompeo.
Beberapa hari lalu, CEO Microsoft Satya Nadella mengonfirmasi bahwa ia telah berbicara dengan Trump mengenai kemungkinan mengambil bagian TikTok yang berbasis di AS, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. (And)
Bagikan
Berita Terkait
OPPO Find N6, Find X9 Ultra, dan Find X9s Diprediksi Rilis usai Imlek 2026
Vivo X300 Ultra Lolos Sertifikasi 3C, Dukung Fast Charging 100W
Baterai Makin Besar, iPhone 18 Pro Max Disebut Bakal Tembus 5.000mAh!
Harga Samsung Galaxy S26 Series Dikabarkan Naik, Segini Rinciannya
OPPO Find X9 Ultra hingga Find X9s Pro Kantongi Sertifikasi, Siap Meluncur 2026
OPPO Find X9s Dirumorkan Meluncur 2026, Bawa Kamera 200MP dan Dimensity 9500s
OPPO Find X10 Siap Debut dengan Chipset Dimensity 9500 Plus, Find X10 Pro Beralih ke 2nm
Bocoran Warna Samsung Galaxy S26 Ultra, Ada Cobalt Violet hingga Sky Blue!
Bocoran iPhone Lipat: Apple Siapkan Baterai Terbesar Sepanjang Sejarah
OPPO Find X9s Pro Selangkah Lagi Meluncur, Sudah Kantongi Sertifikasi SRRC