MERAHPUTIH.COM - WAJAH aktivis Munir Said Thalib muncul di ajang Synchronize Fest 2026. Tak cuma satu, banyak jumlahnya. Orang-orang bertopeng almarhum Munir itu berkerumun di depan panggung yang menampilkan Efek Rumah Kaca (ERK). Siapakah mereka?
Rupanya mereka ialah para Penerka, sebutan bagi penggemar Efek Rumah Kaca. Band idola mereka memang menjadi pembuka dalam ajang Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (16/10) sore. Kali ini, Efek Rumah Kaca membuka Synchronize Fest 2026 dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih mengawali pertunjukan dengan sapaan ringan khas festival, band tersebut langsung menyampaikan pesan-pesan kritis melalui musik dan aksi panggung yang sarat makna.
Sejak lagu pertama dimainkan, atmosfer panggung terasa intens dan emosional. Di Udara dan Mosi Tidak Percaya dipilih sebagai dua nomor pembuka yang langsung membangun suasana. Para penerka dalam balutan topeng Munir pun ikut membentangkan poster-poster berisi pesan perjuangan.
Aksi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ingatan terhadap mereka yang mengalami ketidakadilan. Sosok Munir, aktivis hak asasi manusia yang dikenal karena perjuangannya, dihadirkan melalui simbol visual yang menguatkan pesan tentang keberanian, keadilan, dan penolakan untuk melupakan berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia.
Baca juga:
Synchronize Fest 2026 Dibuka, Cek Deretan Penampil Spesial 3 Hari
Efek Rumah Kaca kemudian memperluas pendekatan artistiknya dengan menggabungkan musik dan seni pertunjukan. Berkolaborasi dengan KontraS dan Jakarta 32, mereka menghadirkan art performance bertajuk Olah Tubuh. Dalam pertunjukan tersebut, para pelaku seni menggunakan ompreng atau wadah makanan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai instrumen sekaligus simbol untuk menyampaikan kritik sosial.
Penggunaan benda sehari-hari dalam aksi tersebut menghadirkan lapisan makna tambahan di tengah suasana festival. Musik tidak lagi menjadi satu-satunya medium penyampaian pesan, sebab gerak tubuh, properti, dan visual turut membangun narasi yang mengajak penonton melihat persoalan sosial dari sudut pandang berbeda.
Aksi teatrikal itu kemudian berlanjut hingga mencapai puncaknya di panggung utama. Efek Rumah Kaca membawakan sejumlah lagu andalan, termasuk Putih, Matilah Kau Mati, Kau dan Aku, Balerina, serta Cinta Melulu. Deretan lagu tersebut melengkapi pertunjukan yang memadukan ekspresi musikal dengan pesan sosial dan politik.
Lewat penampilan ini, Efek Rumah Kaca menghadirkan pembukaan Synchronize Fest 2026 yang lebih daripada sekadar perayaan musik. Perpaduan lagu, seni pertunjukan, dan aktivisme menjadikan panggung mereka sebagai ruang untuk menyuarakan kritik, merawat ingatan kolektif, serta mengingatkan publik bahwa perjuangan menegakkan keadilan tetap relevan dari waktu ke waktu.(far)
Baca juga:
Synchronize Fest 2026 Sediakan Nebeng Gratis Transjakarta, Cek 7 Titik Keberangkatannya