MERAHPUTIH.COM - SUSILO Bambang Yudhoyono (SBY) lebih dikenal masyarakat sebagai Presiden Keenam Republik Indonesia yang memimpin Tanah Air selama dua periode. Namun, setelah meninggalkan kursi pemerintahan, SBY justru semakin banyak menghabiskan waktu untuk menekuni berbagai kegiatan seni. Salah satunya yakni menulis novel.
Kini, SBY tengah bersiap memperkenalkan novel perdananya yang diberi judul Diana Memang Manja. Karya tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan kreatifnya sekaligus memperlihatkan sisi lain seorang tokoh yang selama bertahun-tahun lekat dengan dunia politik dan pemerintahan.
Menariknya, proses penulisan novel ini berlangsung di tengah berbagai kesibukan dan perjalanan SBY ke sejumlah negara. Rochester, Chicago, hingga penerbangan menuju Tokyo menjadi beberapa tempat yang turut mewarnai proses kreatifnya dalam merangkai cerita.
Di sela-sela agenda perjalanan dan kesibukan keluarga, SBY tetap menyempatkan diri untuk menulis. Ia mengumpulkan gagasan, menyusun kalimat, hingga perlahan membentuk cerita yang kemudian diberi judul Diana Memang Manja.
Daftar Isi
Tak Mau Post Power Syndrome
Daftar Isi
Keputusan SBY untuk kembali menekuni dunia seni ternyata memiliki cerita tersendiri. Dalam pemberitaan Kompas TV pada Jumat (30/10), SBY mengungkapkan ia tidak ingin terjebak dalam fenomena post-power syndrome maupun terus mencampuri urusan politik setelah tidak lagi memegang jabatan.
Baca juga:
Ia mengaku telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak ikut campur dalam urusan yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya setelah menyelesaikan tugas sebagai presiden. Ketimbang terus berada di sekitar lingkaran kekuasaan, SBY memilih kembali melakukan berbagai kegiatan yang sudah disukainya sejak muda. Seni dan olahraga menjadi dua bidang yang kemudian kembali mendapatkan ruang dalam kesehariannya.
SBY juga menegaskan bahwa ketertarikannya terhadap seni bukan sesuatu yang baru muncul setelah ia menjadi presiden. Minat tersebut sudah tumbuh sejak masa sekolah hingga ketika menjalani pendidikan di Akademi Militer. Ada pula perjalanan personal yang turut memengaruhi keputusannya. Setelah sang istri, Ani Yudhoyono, meninggal dunia pada 1 Juni 2019, SBY sempat mencari kegiatan yang bisa membantunya melewati masa kehilangan.
Setelah perlahan menemukan kembali ketenangan, ia mulai mempertimbangkan saran untuk melakukan hal-hal yang dahulu disukai. Dari sanalah aktivitas seni kembali menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Menulis novel menjadi salah satu cara SBY menuangkan imajinasi. Ia menikmati proses membangun adegan, membayangkan tokoh dengan karakter berbeda, hingga merangkai berbagai kemungkinan cerita menjadi sebuah karya fiksi.
Novel dengan Gabungan Berbagai Genre
Sebelumnya, SBY juga sempat membocorkan sedikit gambaran mengenai novel Diana Memang Manja ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), pada 13 Oktober 2026.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan novel perdananya akan menghadirkan perpaduan sejumlah elemen cerita. Mulai dari romansa, percintaan, misteri, hingga unsur kegaiban. "Novel yang pertama akan segera kami luncurkan, judulnya Diana Memang Manja. Ini ada romansanya, ada kisah percintaannya, ada misterinya, ada kegaibannya," ungkap SBY.
Perpaduan unsur tersebut tentu membuat Diana Memang Manja menarik untuk dinantikan. Terlebih, novel ini datang dari sosok yang selama bertahun-tahun lebih banyak dikenal melalui pidato kenegaraan, pemikiran politik, dan berbagai kebijakan pemerintahan.
Di luar novel perdananya, SBY ternyata juga telah menyiapkan gagasan untuk karya berikutnya. Berbeda dari Diana Memang Manja, novel kedua tersebut akan mengangkat tema politik, uang, dan kekuasaan. Ide cerita novel kedua itu berangkat dari percakapan SBY bersama empat orang di sebuah kafe di kawasan Cipaganti, Bandung, pada Januari 2026. Ceritanya akan menelusuri perjalanan seseorang dalam meraih kekuasaan, proses politik yang menyertainya, hingga bagaimana kekuasaan digunakan setelah berhasil diperoleh.
Melalui Diana Memang Manja, publik kini bisa melihat sisi berbeda dari seorang SBY. Jika sebelumnya ia banyak menyampaikan gagasan melalui pidato dan tulisan politik, kali ini ia mencoba menjelajahi dunia fiksi dengan menghadirkan tokoh, adegan, serta cerita yang lahir dari imajinasinya.
Pada akhirnya, kesibukan baru ini juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat menemukan ruang untuk terus berkarya setelah melewati berbagai fase kehidupan. Bagi SBY, dunia seni dan sastra menjadi salah satu cara untuk mengisi hari-hari sekaligus merawat minat yang telah tumbuh sejak lama.
Kini, menarik untuk menantikan bagaimana SBY merangkai kisah Diana ke dalam sebuah novel utuh. Di balik judul yang terdengar sederhana dan sedikit menggelitik tersebut, tersimpan cerita yang memadukan romansa, misteri, dan kegaiban.(Far)
Baca juga:
SBY Belanja Batik di Solo, Kenang Momen Bersama Almarhumah Ani Yudhoyono