Ketika kata-kata tak lagi cukup, musik menyuarakan. Setelah kematian Lady Diana, lagu Candle in the Wind menjadi lagu paling sukses sepanjang sejarah chart. Lagu itu berkisah tentang kehidupan yang padam terlalu awal.
Candle in the Wind awalnya dimaksudkan untuk mengenang bintang lain. Dalam versi tahun 1973 lagu ini--diperkenalkan dengan judul Goodbye, Norma Jean--, Elton John dan penulis lirik Bernie Taupin mengenang Marilyn Monroe. Ia menggambarkan sang bintang sebagai bintang film sensitif dengan kehidupan bergolak yang dihancurkan ketenarannya.
Taupin mengungkapkan bahwa ia tidak terpikir membuat metafora ‘candle in the wind’. Namun, inspirasi itu datang ketika ia membaca orbituarium perempuan musisi yang meninggal secara tragis di usia muda, Janis Joplin. Joplin meninggal akibat overdosis heroin pada 1970 di usia 27.
Dua dekade kemudian, pada 31 Agustus 1997, datang kabar mengerikan. Lady Diana meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Kabar itu memukul Elton John. Setelah bertemu Diana pada 1981, ketika ia bernyanyi di perayaan ulang tahun Pangeran Andrew, mereka menjadi teman dekat. Enam minggu sebelum kematiannya, Diana menenangkan Elton John di pemakaman seorang teman lainnya, desainer Gianni Versace.
Dari Marilyn untuk Diana
Menjelang pemakaman Diana, keluarga kerajaan menghubungi Elton John menanyakan apakah ia berkenan bernyanyi pada prosesi itu. Lagu Candle in the Wind pun terlintas di pikirannya. Namun, lirik tentang bintang Hollywood tentu tidak pantas pada upacara peringatan di Westminster Abbey.
John lantas menghubungi Bernie Taupin di California untuk menulis lirik baru, mengambil kesamaan antara kehidupan Diana dan Marilyn Monroe yang juga meninggal pada usia 36.
"Saya ingin membuatnya terdengar seperti sebuah negara menyanyikan lagu itu," kata Taupin. Lirik itu diselesaikan hanya dalam beberapa jam. "Sejak saya menuliskan bait pertama, semua terasa pas."
Pada pemakaman Diana di 6 September 1997, Elton John duduk di depan piano menyanyikan Goodbye, England’s Rose. Belakangan, John menggambarkan momen itu sebagai suatu hal yang surealis.
"Yang terlintas di pikiran saya, 'jangan salah menyanyikan nada. Tabahlah. Jangan terpuruk, lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan tanpa menunjukkan emosi atau apa pun itu’. Jantungku berdetak kencang."
Lagu itu menimbulkan efek yang luar biasa. Pangeran Harry membeberkan, lagu itu seperti seseorang menembakkan panah melalui pertahanan emosional.
Sebuah keberhasilan di tangga lagu
Rekaman pun dibuat secepat kilat di West London Townhouse Studios, menampilkan suara Elton John diiringi piano, string quartet, dan oboist. Pada 13 September 1997, tepat seminggu setelah pemakaman Diana, Goodbye, England’s Rose dirilis bersamaan dengan lagu Elton John lainnya, Something About the Way You Look Tonight. Penjualan rekaman itu merupakan yang terbesar hingga saat ini, dengan total terjual 658 ribu kopi pada hari pertama saja. Satu minggu kemudian, terjual 1,5 juta kopi. Setelah 15 hari, penjualannya mencapai 3 juta. Di AS, rekaman itu terjual mencapai 11 juta kopi, sedangkan di Jerman 4,75 juta kopi.
Dengan 33 juta kopi terjual di seluruh dunia, lagu ini sering kali disebut lagu terlaris dunia, meskipun predikat itu masih menimbulkan kontroversi.
Hanya ditampilkan sekali
Elton John hanya sekali menampilkan lagu Goodbye, England’s Rose, yakni saat pemakaman Diana. Hanya sekali itu. Dalam setiap konsernya, John hanya menyanyikan lagu Candle in the Wind versi 1973. Ia mengamanatkan hasil penjualan lagu versi 1997 disumbangkan ke amal yang dicintai Diana. Sebuah lembaga pun didirikan. Setelah ditutup 15 tahun kemudian pada 2012, secara total 138 juta pound sterling (sekitar 177 juta dolar AS) telah dikumpulkan. Yang yang menakjubkan, sebanyak 38 juta pound sterling (sekitar 49 juta dolar AS) di antaranya berasal dari penjualan lagu Candle in the Wind.(*)
Sumber: DW.Com