Bukan Obat, Dokter Resepkan Perjalanan ke Museum untuk Pasien

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 03 November 2018
Bukan Obat, Dokter Resepkan Perjalanan ke Museum untuk Pasien

Alih-alih meresepkan obat, dokter malah memberi tiket kunjungan ke museum. (foto: pixabay/mufidpwt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

UMUMNYA, dokter akan meresepkan obat ataupun merujuk terapi tertentu untuk pasien setelah melakukan diagnosis. Namun, terobosan terbaru dilakukan para dokter di Kanada. Sekelompok dokter di sana kini mulai meresepkan perjalanan ke galeri seni sebagai bentuk pertolongan bagi pasien dengan berbagai penyakit.

Seperti dikutip dari AFP, kerja sama antara Francophone Association of Doctors in Canada (MFdC) dan Montreal Museum of Fine Arts (MMFA) ini memungkinkan pasien yang mengalami sejumlah penyakit fisik dan psikis berkunjung secara cuma-cuma menikmati manfaat seni untuk kesehatan bersama orang-orang terkasih.

Pihak penyelenggara mengklaim belum pernah ada proyek percontohan seperti ini sebelumnya di dunia. Para dokter yang berpartisipasi dalam proyek ini akan meresepkan hingga 50 kunjungan ke MMFA selama pengobatan. Setiap pasien akan diberi kartu masuk cuma-cuma. Setiap kartu masuk berlaku untuk maksimal dua orang dewasa dan dua anak di bawah umur. "Sejauh ini, ada 100 dokter yang bergabung dalam proyek ini," kata Kepala MFdC Nicole Parent, seperti dilansir Antara.

art-museum
Pasien dengan berbagai penyakit didorong untuk mengunjungi museum sebagai terapi pengobatan. (foto: pixabay/stocksnap)

Parent menyebut jumlah tersebut merupakan bukti bahwa dokter punya sensitivitas dan keterbukaan pada pendekatan alternatif jika pasien menginginkannya. Ia mengutip bukti ilmiah tentang manfaat seni bagi kesehatan.

Meresepkan kunjungan ke museum bukanlah tanpa alasan. Manfaat yang didapat dari kunjungan ke museum serupa dengan yang pasien dapat dari aktivitas fisik, yakni mendorong keluarnya hormon yang menimbulkan perasaan bahagia. Hal itu bisa membantu mulai dari rasa sakit kronis hingga depresi, stres dan rasa cemas.

Program percontohan ini memungkinkan penyelenggara untuk mengumpulkan data dan menganalisis hasil sehingga memungkinkan pengembangan prosedur untuk mengidentifikasi pasien.

woman-museum
Melihat karya seni di museum memberi rasa bahagia. (foto: pixabay/pexels)

Parent mengatakan dia berharap museum lain di Kanada akan mengikuti jejak MMFA. Lembaga seni itu sejak 2016 memang telah mengembangkan terapi seni untuk orang-orang dengan berbagai penyakit. "Saya yakin pada abad 21, budaya akan menjadi aktivitas fisik bagi kesehatan pada abad ke-20," kata Direktur MMFA Nathalie Bondil dalam sebuah pernyataan.

"Pengalaman budaya akan bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran, seperti olahraga berkontribusi untuk kebugaran," imbuhnya.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan