Bukan cuma Bukalapak, Aplikasi Berikut Juga Pernah Kena Badai #Uninstall

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 15 Februari 2019
Bukan cuma Bukalapak, Aplikasi Berikut Juga Pernah Kena Badai #Uninstall

Kampanye #Uninstall pernah menimpa beberapa perusahaan rintisan. (foto: pixabay/irfanahmad)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TAGAR #Uninstallbukalapak meramaikan media sosial sejak Kamis (14/2). Pada Jumat (15/2) pagi, tagar itu bahkan bercokol sebagai topik terpopuler di Twitter.

Tagar itu bermunculan sebagai reaksi atas cicitan CEO Bukalapak Achmad Zaky yang dianggap bernada politis dan mendukung salah satu calon presiden. Sejumlah warganet bereaksi dengan menuliskan tagar tersebut dan ramai-ramai menghapus aplikasi Bukalapak dari ponsel pintar mereka.

Bukalapak ternyata bukan satu-satunya perusahaan rintisan berbasis aplikasi yang terkena badai #Uninstall. Ada beberapa start-up lain yang pernah melalui hal serupa.


1. Gojek

gojek
#UninstallGojek merebak karena perusahan itu dianggap mendukung LGBT. (foto: Twitter @gojekid)

Sebuah unggahan di media sosial memicu gelombang tagar #UninstallGojek pada Oktober 2018. Unggahan tersebut menampilkan kampanye internal yang menyebut GO-JEK membawa isu inklusivitas dan keragaman dengan lebih serius. Hal itu dilakukan dengan menerapkan kebijakan nondiskriminasi kepada kelompok yang kurang terwakili, yaitu LGBT

Unggahan tersebut mencantumkan profil 30 lebih karyawan serta pendukung LGBT. Profil mereka ditampilkan dalam rangkaian galeri foto untuk berbagi makna penerimaan, kebebasan, autentisitas, kebebasan, dan persamaan.

Atas unggahan itu, muncullah tagar #UninstallGojek. Tagar itu dengan cepat menjadi viral setelah warganet menilai unggahan yang menyiratkan perusahaan rintisan besutan Nadiem Makarim itu memberikan dukungan kepada kelompok LGBT di Indonesia.

Saking viralnya, tagar #UninstallGojek, menurut pencatatan Spredfast, sudah digunakan lebih dari 30.000 kali dalam sehari saja.

Pihak Gojek pun tak tinggal diam menyikapi badai tagar tersebut. Dalam sebuah pernyataan resmi, Gojek mengatakan unggahan tersebut merupakan pendapat dan interpretasi pribadi dari salah seorang karyawan Gojek terhadap sebuah event internal dengan tema keberagaman.

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan