Merahputih.com - Nelayan menunjukkan kepiting hasil panen budidaya di Tambak Rehabilitasi Mangrove Pulau Mangkasak, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Selasa (3/11/2026).
Petambak di Pulau Mangkasak mengembangkan budidaya perikanan dengan memadukan penanaman mangrove melalui pola silvofishery, yakni sistem budidaya perikanan ramah lingkungan yang mengintegrasikan keberadaan mangrove dengan kegiatan pertambakan.
Kelompok Masyarakat Binaan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) merasakan manfaat rehabilitasi mangrove yang tidak hanya mendukung pemulihan ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat. Melalui pola ini, masyarakat mengembangkan budidaya berbagai komoditas perikanan, seperti kepiting, udang, dan ikan bandeng, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Keberadaan mangrove di sekitar tambak turut memberikan manfaat ekologis, antara lain membantu melindungi kawasan pesisir dan menjaga kestabilan lingkungan tambak. Dengan demikian, rehabilitasi mangrove tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha perikanan masyarakat.
Kelompok masyarakat memperoleh dukungan berupa bibit mangrove, perlengkapan budidaya, bantuan operasional, serta pembangunan infrastruktur penunjang. Dukungan tersebut disertai pembekalan dan pendampingan agar masyarakat mampu mengelola kawasan rehabilitasi mangrove secara produktif tanpa meninggalkan mata pencaharian utama mereka.
Penerapan sistem silvofishery ini menjadi salah satu upaya membangun keseimbangan antara pelestarian mangrove dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir, sehingga ekosistem tetap terjaga dan sumber penghidupan masyarakat dapat terus berkembang. (Foto: MP/Didik Setiawan).