Belajar dari Meninggalnya Petugas KPPS, Kelelahan Bisa Amat Berbahaya, Ini Alasannya

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 25 April 2019
Belajar dari Meninggalnya Petugas KPPS, Kelelahan Bisa Amat Berbahaya, Ini Alasannya

Kelelahan memicu stres yang memperberat kerja jantung. (foto: pixabay/concord90)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SETELAH sukses menggelar pemilu serentak di seluruh Indonesia, kabar duka malah menyeruak. Lebih dari 100 petugas KPPS dikabarkan gugur saat menjalankan tugas sebagai penyelanggara pemungutan suara.

Penghitungan suara yang harus teliti, jumlah pemilih yang banyak serta pola pemilu serentak untuk DPR, DPRD I, DPRD II, dan Presiden membuat petugas KPPS harus bekerja ekstra keras. Berdasarkan laporan, anggota KPPS yang gugur memang disebabkan kelelahan akibat bekerja melakukan penghitungan.

Namun, secara medis apakah kelelahan memang bisa menyebabkan kematian? Bagaimana bisa?

1. Level Stres yang Meningkat Mengganggu Jantung

heartache
Bekerja terlalu lama meningkatkan level stres. (foto: pixabay/pexels)

Seperti dilansir Hellosehat, Bekerja terlalu lama atau terlalu giat bisa menyebabkan level stres yang sangat tinggi. Apalagi jika sebelumnya kamu juga tak menikmati istirahat yang cukup.

Saat stres, jantung akan bekerja lebih keras daripada biasanya. Dikutip laman Time.com, Direktur Medis di Stanford Cardiovascular Health dr Alan Yeung mengatakan bahwa seseorang yang memiliki tingkat stres tinggi akan mengalami peningkatan irama jantung dan tekanan darah.

Kedua kondisi itulah yang kemudian akan meningkatkan pula risiko terjadinya serangan jantung dan gagal jantung. Risiko itu makin besar pada mereka yang telah memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya


2. Hormon Kortisol Memperburuk Keadaan

sleepy man
Ketika kelelahan, hormon kortisol akan muncul dan memperburuk maasalah jantung. (foto: sleepsavvy)

Meskipun demikian, hubungan antara jam kerja yang panjang dan penyakit jantung belum bisa dijelaskan secara gamblang. Para peneliti menyimpulkan hormon kortisol dan epinephrine yang dilepaskan saat stres turut menyumbang masalah jantung pada mereka yang bekerja lembur.

Kelelahan sampai menyebabkan kematian bisa saja terjadi. Menurut Yeung, kematian akibat gagal jantung yang disebabkan stres sangat mungkin, tetapi kasusnya cukup jarang. Penyakit jantung akibat kelelahan karena bekerja terlalu lama mungkin terjadi dan meningkat risikonya apabila orang tersebut telah memiliki beberapa masalah kesehatan sebelumnya, seperti riwayat penyakit jantung atau stres berkepanjangan.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kelelahan tidak secara langsung menyebabkan kematian akibat penyakit jantung. Namun, kondisi stres berkepanjangan dan iskemia-lah yang menyebabkan risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat.

3. Cegah sebelum Kematian Terjadi

water
Jangan minum kopi saat lembur, asuplah air putih yang cukup. (foto: pixabay/publicdomainpictures)


Bekerja keras dalam waktu yang panjang bisa saja kamu alami, terlebih ketika tenggat mendera. Jika sudah demikian, lembur bisa jadi pilihan. Nah, agar aman, kamu perlu memperhatikan tanda-tanda yang disampaikan tubuhmu.

Kamu bisa mencegah kelelahan akibat bekerja dengan melakukan beberapa hal, semisalm akan camilan sehat di tengah pekerjaan, menghindari makanan/minuman bergula siap saji, dan mengurangi konsumsi kafein. Sebagai gantinya, kamu disarankan untuk minum cukup air putih.

Ada baiknya lebih aktif selama lembur, semisal berjalan-jalan sekitar kantor atau gunakan tangga ketimbang lift. Hindari stres berlebih dengan bercanda dengan rekan kerja. Humor diketahui akan menurunkan stres dan meningkatkan produktivitas kerja.

Yang terpenting, meskipun sibuk kerja keras bagai kuda, kamu wajib menyediakan waktu untuk tidur sejenak dan secukupnya.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan