Merahputih.com - Atmosfer Old Trafford mendadak hangat menyusul performa impresif Manchester United bawah kendali Michael Carrick.
Kursi pelatih permanen masih kosong, namun nama sang pelatih sementara terus melambung seiring keberhasilan merangsek ke zona Liga Champions. Sorak-sorai pendukung setuju jika jabatan tersebut segera menjadi milik permanen sang mantan gelandang.
Namun, suara sumbang justru datang dari ruang ganti legenda. Paul Scholes muncul membawa keraguan besar meski United baru saja mencatatkan rekor enam kemenangan dan satu hasil seri dalam tujuh laga perdana bersama Carrick.
Baca juga:
Michael Carrick Sebut Skuad MU Punya 'Napas Kedua' Saat Jinakkan Crystal Palace
Sosok berjuluk The Ginger Prince tersebut menilai United butuh nakhoda sarat pengalaman internasional daripada sekadar meneruskan tren positif pelatih interim.
Rayuan Maut untuk Carlo Ancelotti
Scholes melirik sosok berpengalaman luas guna memimpin skuad Setan Merah. Mantan gelandang tajam ini terang-terangan menyebut nama pelatih tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti, sebagai kandidat paling sesuai untuk mendarat di Manchester. Pengalaman Ancelotti menaklukkan berbagai liga top Eropa menjadi alasan utama di balik usulan tersebut.
"Pelatih sempurna ada di luar sana, Ancelotti masih tersedia," ujar Scholes sebagaimana mengutip laporan Mirror.
"Meski berstatus pelatih Brasil, sosok ini tepat untuk Manchester United. Kehadirannya sanggup membuat para pemain merasa sangat berharga."
Trauma Kegagalan Era Solskjaer
Keraguan Scholes bersumber pada minimnya jam terbang Carrick memimpin tim besar dalam perburuan trofi bergengsi.
Ketakutan akan terulangnya sejarah kelam saat United memberikan kontrak permanen kepada Ole Gunnar Solskjaer menjadi dasar kritik pedas tersebut. Manajemen pemain dianggap belum cukup jika tidak dibarengi taktik mumpuni untuk menjuarai liga.
"Pertanyaannya, apakah Carrick punya pengalaman? Bisakah Michael memenangkan Premier League? Belum ada jawaban pasti," cetus Scholes
Baca juga:
.
Ia menekankan agar manajemen United lebih selektif menentukan tipe pelatih masa depan. Baginya, kemenangan beruntun di awal masa jabatan bukan jaminan kesuksesan jangka panjang.
"Ole Gunnar Solskjaer memiliki keterampilan manajemen pemain, namun apakah punya pengalaman terus maju memenangkan trofi? Pertanyaan serupa berlaku untuk Michael," tutup Scholes.