Merahputih.com - Hasil Eko Yuli Irawan di Asian Games 2026 akhirnya terjawab dengan raihan posisi keempat pada cabang olahraga angkat besi kelas 65kg putra usai mencatatkan total angkatan 302 kilogram.
Lifter andalan Indonesia ini harus merelakan medali jatuh ke tangan lawan dalam persaingan super ketat di Nagoya City Trade and Industry Center, Kamis. Meski gagal membawa pulang medali, perjuangan sang veteran di arena patut diapresiasi mengingat adanya kendala teknis tak terduga yang sempat merusak ritme angkatannya.
Baca juga:
Indonesia Tertinggal 0-2 di Final Asian Games, Asa Medali Emas di Tangan Tunggal Kedua
Kabar soal Eko Yuli Irawan gagal medali ini memang bikin kaget sebagian penggemar, tapi peta kekuatan di klasemen angkat besi Asian Games 2026 nyatanya kelewat sengit.
Dalam laga penentuan tersebut, Eko menorehkan angkatan terbaik 135 kilogram di kategori snatch dan 167 kilogram saat mengeksekusi clean and jerk.
Posisi puncak berhasil disabet oleh lifter Korea Utara, Pak Myong Jin, yang tampil menggila dengan total 328 kilogram, disusul He Yueji (China) dengan 327 kilogram, dan wakil Vietnam Tran Minh Tri (309 kilogram).
Target Realistis Sejak Awal: Perunggu Jadi Incaran Utama

Eko sendiri rupanya sudah membaca peta kekuatan lawan sebelum benar-benar unjuk gigi. Ia sadar betul kalau perebutan medali emas dan perak ibarat jatah paten untuk atlet dari negara-negara yang memang jadi langganan juara di cabang ini.
Satu dua itu memang sudah buat mereka (Korea Utara dan China), jadi rebutan kita itu cuman perunggu,
kata Eko.
Drama Barbel Licin Bikin Tarikan Kurang Maksimal
Ada cerita apes di balik kegagalan angkatan snatch pertama Eko yang seberat 135 kilogram. Ternyata, bukan masalah fisik atau cedera yang jadi biang keroknya.
Eko menyebut kondisi arena punya peran krusial di mana barbel yang digunakan terasa licin gara-gara tetesan air dari pendingin ruangan (AC).
Cedera enggak, snatch pertama licin kena AC jadi basah, jadi enggak maksimal tarikannya,
beber lifter berusia 37 tahun tersebut.
Meski sempat gagal akibat insiden barbel licin, ia berhasil menebusnya di percobaan kedua, walau akhirnya harus mentok dan gagal lagi saat mencoba menaikkan beban ke 138 kilogram di kesempatan ketiga.
Hasil Akhir dan Klasemen Angkat Besi 65kg Putra
Pada sesi clean and jerk, dinamikanya tidak jauh berbeda. Eko sempat gagal di percobaan perdana (167kg), sukses di percobaan kedua, lalu kehabisan tenaga saat menantang beban 175kg di percobaan pamungkas.
Berikut adalah rekap hasil akhir pertandingannya agar lebih mudah dipahami:
-
Medali Emas: Pak Myong Jin (Korea Utara) – Total 328kg (Snatch 146kg, Clean and Jerk 182kg)
-
Medali Perak: He Yueji (China) – Total 327kg (Snatch 152kg, Clean and Jerk 175kg)
-
Medali Perunggu: Tran Minh Tri (Vietnam) – Total 309kg (Snatch 139kg, Clean and Jerk 170kg)
-
Peringkat 4: Eko Yuli Irawan (Indonesia) – Total 302kg (Snatch 135kg, Clean and Jerk 167kg)
Bukan Cuma Eko, Ricko Saputra Juga Tertahan di Posisi Empat
Pertarungan di kelas 65kg ini sejak awal sudah diprediksi bakal berdarah-darah. Kalau melihat data entry total (angka pendaftaran awal) dari Federasi Angkat Besi Internasional (IWF), Eko sebenarnya masuk bursa dengan beban 315kg, hanya selisih lima kilogram dari target 320kg milik deretan jagoan seperti Pak Myong Jin, He Yueji, dan Sairamkez Akmolda (Kazakhstan).
Baca juga:
Sayangnya, nasib Eko ini seolah mengikuti jejak rekan senegaranya. Sebelum Eko bertanding, lifter muda Indonesia, Ricko Saputra, juga harus menelan pil pahit finis di urutan keempat pada kelas 60kg setelah berhasil mengumpulkan total angkatan 298 kilogram.