MerahPutih.Com - Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan Israel yang menghalangi bantuan untuk Palestina.
Penghadangan itu bermula dari aksi pencegatan oleh petugas Israel terhadap kapal Al-Awda yang pada tanggal 29 Juli membawa regu kesehatan untuk warga Palestina di Gaza.
Pihak Kementerian Luar Negeri Malaysia, Senin (30/7) mengatakan kapal dengan 22 orang dari berbagai warganegara itu adalah bagian dari misi perdamaian di bawah Armada Persatuan Kebebasan.
Malaysia sangat prihatin dengan keselamatan semua pegiat di kapal itu, termasuk seorang Malaysia, Dr Mohd Afandi Salleh, dari MyCare.
Malaysia menuntut pemerintah Israel memastikan keselamatan dan kesejahteraan mereka serta menyerukan pembebasan segera para petugas kemanusiaan itu.
Kementerian Luar Negeri, melalui Kedutaan Besar Malaysia di Kairo sebagaimana dilansir Antara, memantau keadaan dan bekerja erat dengan pihak berwenang Palestina untuk membantu pembebasan Mohd Afandi Salleh.
Pada kesempatan terpisah, Ketua Al-Awda Humanitarian Care Malaysia (MyCARE), Associate Prof Dr Hafidzi Mohd Noor, mengatakan mengecam Israel atas penyitaan dan penculikan peserta MyCARE.
Freedom Flotilla Coalition (FFC) mengecam keras Israel atas penahanan kapal kemanusiaan Al-Awda dan penculikan 22 relawan kemanusiaan itu dari perairan internasional pada pukul 19.15 di sekitar 49 mil laut dari Gaza.
Tindakan Israel menahan Kapal Al-Awda di perairan internasional melanggar hukum laut, katanya, Israel tidak memiliki hak menahan kapal Al-Awda dari berlayar di perairan internasional.
Israel mencegah Al-Awda berlayar ke Gaza dan menutup semua jalur memasuki Gaza melawan Konvensi IV Jenewa, yang melarang hukuman kolektif terhadap masyarakat mana pun.
"Israel tidak punya hak menghukum seluruh penduduk Gaza atas permusuhan dengan Hamas," katanya.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Faktor ini Bikin Prabowo Sulit Kalahkan Jokowi di Pilpres 2019

