MerahPutih.com - Banjir bandang menerjang sejumlah kawasan di Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Senin (21/9) malami.
BPBD Kabupaten Solok mencatat puluhan terpaksa mengungsi akibat rumahnya dihantam banjir bandang. Sebanyak 21 mobil dan tujuh sepeda motor mengalami kerusakan.
Terdapat 11 kantor pemerintah ikut terdampak banjir. Akses jalan Solok-Padang di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, juga terputus akibat tertutup material banjir bandang.
Baca juga:
Jalan Solok-Padang Ditutup Akibat Banjir Bandang, 4 Orang Dikabarkan Terluka
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bencana banjir bandang dipicu oleh guyuran hujan lebat berdurasi panjang dengan intensitas mencapai 94 milimeter per hari.
Hujan yang terjadi di sekitar Solok tergolong lebat berdasarkan catatan BMKG, yakni sebesar 94 mm per hari, sehingga memicu kejadian banjir bandang pada Senin malam sekitar pukul 23.00 WIB,
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9).
Peringatan Berjenjang Sebelum Bencana
Guna meminimalkan dampak risiko di lapangan, BMKG mengklaim telah menyebarkan sinyal kewaspadaan cuaca secara berjenjang kepada otoritas daerah dan masyarakat jauh sebelum peristiwa terjadi banjir bandang di Solok semalam.
-
Sinyal 7 Hari: Informasi potensi cuaca ekstrem awal telah disalurkan seminggu sebelum kejadian untuk antisipasi wilayah.
-
Sinyal 3 Hari: Pembaruan peta kerawanan bencana dan peningkatan status kewaspadaan disampaikan tiga hari menjelang peristiwa.
-
Peringatan Jangka Pendek: Peringatan dini real-time durasi singkat dipancarkan beberapa jam sebelum debit air melonjak drastis.
Baca juga:
Prakiraan Cuaca Indonesia 15–21 September 2026 BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Kota-Kota Ini
Imbauan BMKG dan Antisipasi Susulan
BMKG meminta pemerintah daerah serta masyarakat di wilayah rawan lereng dan bantaran sungai untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem susulan.
Langkah evakuasi mandiri dan pemantauan kanal informasi resmi BMKG menjadi kunci utama untuk menekan potensi korban jiwa saat intensitas hujan meningkat kembali. (*)