Bahasa

Bakal yang (masih) Bisa Batal

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 10 Agustus 2018
Bakal yang (masih) Bisa Batal

Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Foto: ANTARA

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PILPRES 2019 memasuki babak baru dengan dilaluinya proses pendaftaran pesaing yang akan berlaga pada pesta demokrasi lima tahunan itu, Jumat (10/8). Dua pasang kontestan mendaftar ke Kantor Komisi Pemilihan Umum di hari yang sama. Pasangan petahana Joko Widodo berpasangan dengan Ma'aruf Amin mendaftar di pagi hari. Sementara itu, pesaing mereka, pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mendaftar di siang hari. Dengan membawa serta petinggi partai pendukung masing-masing, kedua pasangan yang akan berkontestasi itu membawa kelengkapan pendaftaran.

Sudah pasti warga Indonesia riuh rendah menyambut. Media sosial dibanjiri komentar. Bahkan tak sedikit yang langsung melontarkan prediksi jalannya pilpres mendatang. Padahal, tahapan yang mesti dilalui kedua pasangan tersebut masih lama. Salah satunya ialah melewati proses dari 'bakal' calon presiden dan calon wakil presiden untuk menjadi 'calon' presiden dan wakil presiden.

Selama ini, publik memang lebih akrab dengan istilah capres (calon presiden) dan cawapres (calon wakil presiden) ketimbang 'bakal capres dan cawapres'. Kedua istilah itu tidaklah sepenuhnya keliru. Hanya saja, penggunaannya haruslah mengikuti kepatutan tahapan dalam proses yang ditetapkan KPU.

Sayangnya, penyebutan yang bersesuaian dengan ketetapan KPU itu malah terlihat diabaikan sama sekali oleh media dan awam. Pengabaian istilah yang bersesuaian kerap juga terlihat dalam penyebutan 'jemaah calon haji' dan 'jemaah haji'.

Media acap menyebut 'jamaah haji' kepada umat Islam yang berangkat ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Jamaah yang pergi berhaji haruslah menunaikan rukun haji untuk sah hajinya. Adapun kelima rukun itu, yakni ihram, wukuf, thawaf, sa'i, dan tahallul. Oleh karena itu, sebelum menjalankan kesemua rukun tersebut, jemaah yang berangkat disebut 'calon haji'.

Pasangan Prabowo-Sandiaga uno. (Foto: #KawanPS)

Kata 'bakal' dan 'calon' memang bersinonim. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan lema 'bakal' sebagai 'yang akan dijadikan', 'sesuatu yang akan menjadi; calon', 'bahan', 'akan', dan 'untuk; buat'.

Sementara itu, lema 'calon' diartikan sebagai 'orang yang akan menjadi', 'orang yang dididik dan dipersiapkan untuk menduduki jabatan atau profesi tertentu', 'orang yang diusulkan atau dicadangkan untuk dipilih atau diangkat menjadi sesuatu'.

Jika melihat definisi itu, ada tingkat kepastian yang berbeda. Lema 'calon' menyiratkan bahwa seseorang sudah dipersiapkan untuk suatu posisi tertentu. Dalam hal 'jemaah calon haji', jemaah dipersiapkan untuk menjadi haji lewat serangkaian rukun haji yang wajib dipenuhi. Di lain hal, dalam tahapan pilpres, untuk menjadi 'calon presiden dan wakil presiden', kontestan haruslah melewati tahapan. Dalam tahap ini, penyematan kata 'bakal' menyiratkan adanya kemungkinan kontestan gagal menjadi 'calon' untuk posisi pemimpin Negeri ini.

Untuk saat ini, Jokowi-Ma'aruf Amin juga pasangan Prabowo-Sandiaga Uno seharusnya disebut 'bakal capres dan bakal cawapres'. Pasalnya, mereka masih harus melalui tahapan verifikasi dan tes kesehatan sebelum ditetapkan sebagai 'capres dan cawapres' oleh KPU pada 22 Agustus mendatang.

Meskipun demikian, media ramai menyebut mereka sebagai 'calon'. Akibatnya, lontaran komentar dan prediksi pun bermunculan begitu saja. Hal itu tak pelak memicu keriuhan di kalangan masyarakat. Bisa dibilang, lontaran komentar prediksi yang prematur itu membuat para pemilih yang awam menjadi gamang, bingung.

Biarpun jangka waktu dari status 'bakal calon' menjadi 'calon' dalam tahapan KPU amat singkat, penyebutan status yang bersesuaian amatlah penting. Hal itu untuk menghindari kerancuan kalau-kalau ada salah seorang kontestan yang tiba-tiba digugurkan KPU karena tak lolos verifikasi dan tes kesehatan.

Jadi hingga capres dan cawapres benar-benar sudah ada, tahan dulu prediksi jalannya Pilpres 2019. Kan mereka ini baru 'bakal calon', masih mungkin gagal lolos toh.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan